Konsep Penyakit Malaria

on Senin, 26 Maret 2012

KONSEP PENYAKIT MALARIA

A. PENGERTIAN
Malaria adalah penyakit menular yang disebabkan oleh protozoa obligat intraseluler dari genus plasmodium yang ditularkan melalui gigitan nyamuk yang terinfeksi parasit tersebut, dapat menyerang semua orang dari semua jenis umur, golongan dan jenis kelamin. Selain menginfeksi manusia parasit ini juga menghinfeksi golongan burung, reptil dan mamalia.
Di dalam tubuh manusia, parasit Plasmodium akan berkembang biak di organ hati kemudian menginfeksi sel darah merah. Pasien yang terinfeksi oleh malaria akan menunjukan gejala awal menyerupai penyakit influenza, namun bila tidak diobati maka dapat terjadi komplikasi yang berujung pada kematian.
Penyakit ini paling banyak terjadi di daerah tropis dan subtropis di mana parasit Plasmodium dapat berkembang baik begitu pula dengan vektor nyamuk Anopheles. Daerah selatan Sahara di Afrika dan Papua Nugini di Oceania merupakan tempat-tempat dengan angka kejadian malaria tertinggi.
Berdasarkan data di dunia, penyakit malaria membunuh satu anak setiap 30 detik. Sekitar 300-500 juta orang terinfeksi dan sekitar 1 juta orang meninggal karena penyakit ini setiap tahunnya. 90% kematian terjadi di Afrika, terutama pada anak-anak.
Berdasarkan sejarahnya infeksi malaria sudah ada sejak 1750 SM di Cina 1700 SM di Mesir. Penyakit ini sempat menyebabkan kematian yang besar pada milenium ke-3 di negara berkembang dan negara maju. Dan diperkirakan sekarang ini diperkirakan satu juta penduduk meninggal pertahun, dan kasus terjadi 200-300 juta/tahun.

Pengontrolan terhadap penyakit ini dilakukan dengan berbagai cara, dari di temukannya obat pembunuh nyamuk dan di temukannya kina. Penatalaksanaan ini hanya dapat mengontrol di berbagai daerah saja terutama Jawa dan Bali, tetapi sampai sekarang masih didapatkan kantung-kantung malaria terutama di Indonesia bagian timur.
Jenis-jenis malaria :
1. Malaria Tropika (Plasmodium Falcifarum)
Merupakan bentuk yang paling berat, ditandai panas yang ireguler, anemia, splenomegali, parasitemia yang banyak dan sering terjadi komplikasi. Masa inkubasi 9-14 hari. Malaria tropika menyerang semua bentuk eritrosit. Disebabkan oleh plasmodium falciparum. Plasmodium ini berupa ring/cincin kecil yang berdiameter 1/3 diameter eritrosit normal dan merupakan satu-satunya spesies yang memiliki 2 kromatin inti (Double Chromatin).
2. Malaria Kwartana (Plasmodium Malariae)
Plasmodium Malariae mempunyai tropozoit yang serupa dengan Plasmoduimvivax, lebih kecil dan sitoplasmanya lebih kompak/ lebih biru. Tropozoit matur mempunyai granula coklat tua sampai hitam dan kadang-kadang mengumpulsampai membentuk pita. Skizon Plasmodium malariae mempunyai 8-10 merozoityang tersusun seperti kelopak bunga/ rossete. Bentuk gametosit sangat miripdengan Plasmodium vivax tetapi lebih kecil.Ciri-ciri demam tiga hari sekali setelah puncak 48 jam. Gejala lain nyeri padakepala dan punggung, mual, pembesaran limpa, dan malaise umum. Komplikasiyang jarang terjadi namun dapat terjadi seperti sindrom nefrotik dan komplikasiterhadap ginjal lainnya. Pada pemeriksaan akan di temukan edema, asites,proteinuria, hipoproteinemia, tanpa uremia dan hipertensi.
3. Malaria Ovale (Plasmodium Ovale)
Malaria Tersiana (Plasmodium Ovale) bentuknya mirip Plasmodium malariae,skizonnya hanya mempunyai 8 merozoit dengan masa pigmen hitam di tengah.Karakteristik yang dapat di pakai untuk identifikasi adalah bentuk eritrosit yangterinfeksi Plasmodium Ovale biasanya oval atau ireguler dan fibriated. Malariaovale merupakan bentuk yang paling ringan dari semua malaria disebabkan olehPlasmodium ovale. Masa inkubasi 11-16 hari, walau pun periode laten sampai 4tahun. Serangan paroksismal 3-4 hari dan jarang terjadi lebih dari 10 kali walaupun tanpa terapi dan terjadi pada malam hari.
4. Malaria Tersiana (Plasmodium Vivax)
Malaria Tersiana (Plasmodium Vivax) biasanya menginfeksi eritrosit muda yangdiameternya lebih besar dari eritrosit normal. Bentuknya mirip denganplasmodium Falcifarum, namun seiring dengan maturasi, tropozoit vivax berubahmenjadi amoeboid. Terdiri dari 12-24 merozoit ovale dan pigmen kuning tengguli.Gametosit berbentuk oval hampir memenuhi seluruh eritrosit, kromatinineksentris, pigmen kuning. Gejala malaria jenis ini secara periodik 48 jam dengangejala klasik trias malaria dan mengakibatkan demam berkala 4 hari sekali denganpuncak demam setiap 72 jam.
B. ETIOLOGI
Malaria pada manusia disebabkan oleh beberapa jenis Plasmodium yaitu Plasmodium Malariae, Plasmodium Vivax, Plasmodium Falciparum dan Plasmodium Ovale.
C. PATOFISIOLOGI
Seseorang dapat terkena malaria pada umumnya penularannya melalui gigitan nyamuk betina dari tribus Anopheles. Bila nyamuk anopheles menggigit penderita malaria, maka parasit akan ikut terhisap bersama darah penderita. Dalam tubuh nyamuk parasit tersebut akan berkembang dan bertambah banyak. Dalam beberapa hari bila nyamuk tersebut menggigit orang yang sehat, maka parasit tersebut akan ikut ditularkan ke orang tersebut. Parasit tersebut kemudian berkembang dan bertambah banyak dan menyerang Sel-Sel Darah Merah dan selang beberapa hari kemudian orang tersebut akan terkena malaria. Selain oleh gigitan nyamuk, malaria dapat juga ditularkan secara langsung melalui transfusi darah atau jarum suntik yang tercemar darah yang mengandung malaria serta dari ibu hamil kepada bayinya.
Beberapa jenis malaria yaitu plasmodium falciparum, plasmodium malariae, plasmodium vivax dan ovale. Infeksi malaria pada manusia mulai bila nyamuk anopheles betina menggigit manusia dan nyamuk akan melepaskan parasit-parasit ke dalam pembuluh darah dimana sebagian besar dalam waktu 45 menit akan menuju ke hati dan sebagian kecil sisanya akan mati di darah. Parasit akan berkembang di dalam hati yang akan merubah bentuk dan menyebar di seluruh pembuluh darah, dan pada plasmodium vivax dan ovale akan menjadi bentuk yang dapat bertahan bertahun-tahun yang memungkinkan terjadinya malaria berulang.
Setelah berada didalam darah parasit akan masuk ke dalam eritrosit, memakan enzim darah dan berkembang biak membentuk beberapa parasit yang lebih kecil lagi. Pada suatu saat sel darah merah tersebut akan pecah dan mengeluarkan 6-36 parasit / satu sel darah merah, yang akan menginfeksi sel darah merah lainnya. Parasit-parasit ini akan beredar didalam darah menginfeksi sel darah lainnya atau bila terdapat nyamuk yang sesuai, parasit-parasit tersebut akan berkembang biak di dalam badan nyamuk dan membentuk parasit seperti pertama lagi.
Dalam perjalanan hidup parasit didalam pembuluh darah yang menyebabkan timbul gejala-gejala malaria. Pada saat malaria didalam darah, ada sebagian malaria yang dihancurkan oleh organ limpa, menyebabkan organ limpa menjadi lebih besar dari normal. Pecahnya sel darah merah dalam jumlah yang banyak akan menyebabkan kekurangan darah (anemia). Reaksi tubuh terhadap parasit, dan racun-racun yang dikeluarkan parasit menyebabkan timbul keluhan peradangan seperti demam, lemas badan.

D. DIAGNOSIS
Diagnosis malaria dapat mendekati dengan anamnesa yang tepat, seperti asal penderita, apakah pernah berada di daerah endemik malaria, riwayat berpergian ke daerah endemik malaria, riwayat pengobatan.
Pemeriksaan tetes darah merupakan pemeriksaan yang paling mudah dan dapat menegakkan secara tepat kasus malaria. Pemeriksaan malaria sebaiknya dilakukan di laboratorium dengan cara tetesan darah tebal atau tetesan darah tipis. Apabila didapatkan satu kali hasil negatif belum dapat menghilangkan kemungkinan malaria, apabila dilakukan 3 kali pemeriksaan dan hasil negatif, diagnosis tidak ada malaria dapat di tegakkan Pemeriksaan lain dapat berupa tes antigen P-F test (antigen plasmodium falciparum), tes serologis, dan tes DNA
E. MASA INKUBASI
Masa inkubsi adalah waktu mulai terjadinya infeksi sampai timbulnya gejala klinis. Masa inkubasi bervariasi antara 9 – 30 hari, tergantung pada spesies parasit. Paling pendek pada P. Falciparum dan paling panjang pada P. Malariae. Masa inkubasi juga tergantung pada intensitas infeksi, pengobatan yang pernah didapat sebelumnya dan derajat imunitas pejamu. Pada malaria akibat transfuse darah, masa inkubasi P. Falciparum adalah 10 hari, P. Vivax 16 hari, P. Malariae 40 hari atau lebih setelah transfuse. Masa inkubasi secara alamiahnya :
1. Plasmodium Falciparum = 12 hari
2. Plasmodium Vivax = 13 - 17 hari
3. Plasmodium Ovale = 13 – 17 hari
4. Plasmodium Malriae = 28 – 30 hari
F. MASA PREPATEN
Masa prepaten adalah waktu antara terjadinya infeksi sampai ditemukannya parasit dalam darah.
1. Plasmodium
2. Periode pre-paten (hari)
3. Falciparum 11
4. Vivax 12,2
5. Ovale 12
6. Malariae 32,7
G. GEJALA KLINIS
Secara klinis, gejala malaria infeksi tunggal pada pasien non imun terdiri atas beberapa serangan demam dengan interval tertentu (paroksisme), yang diselingi oleh suatu periode (periode laten) bebas demam. Sebelum demam pasien biasanya merasa lemah, nyeri kepala, tidak ada nafsu makan, mual atau muntah.
Periode paroksisme terdiri dari tiga stadium yang berurutan yakni : stadium dingin (cold stage), stadium demam (hot stage) dan stadium berkeringat (sweating stage).
1. Stadium Dingin
Stadium ini diawali dengan gejala mengigil dan perasaan yang sangat dingin, gigi gemeretak dan pasien biasa menutupi tubuhnya dengan segala macam pakaian dan selimut. Nadi cepat tetapi lemah, bibir dan jari-jari pucat atau sianosis, kulit kering dan pucat, pasien mungkin muntah dan pada anak sering terjadi kejang. Stadium ini berlangsung antara 15 menit – 1 jam.
2. Stadium Demam
Pada stadium ini pasien merasa kepanasan, muka merah, kulit kering dan terasa sangat panas seperti terbakar, nyeri kepala, sering kali terjadi mual dan muntah, nadi menjadi kuat lagi. Biasanya pasien menjadi haus dan suhu badan dapat meningkat sampai 41° C atau lebih. Ini berlangsung antara 2 – 12 jam. Demam disebab kan oleh pecahnya skozon dalam sel darah merah yang telah matang dan masuknya morosit darah kedalam aliran darah. Pada P. Vivax dan P. Ovale skizon dari setiap generasi menjadi matang setiap 48 jam sekali sehingga timbul demam setiap hari ke-3 terhitung dari serangan demam sebelumnya. Pada P. Malriae, demam terjadi pada 72 jam setiap hari ke-4 sehingga disebut malaria kuartana. Pada P. Falciparum setiap 24 – 48 jam.
3. Stadium Berkeringan
Pada stadium ini pasien berkeringant banyak sekali, tempat tidurnya basah, suhu badan menurun dengan cepat kadang-kadang sampai dibawah normal. Gejala di atas tidak selalu sama pada setiap pasien tergantung pada spesies parasit, berat infeksi dan umur pasien. Gejala klinis yang berat biasanya terjadi pada malaria tropika yang disebabkan oleh adanya kecenderungan parasit (bentuk trofozoid & skizon) untuk berkumpul pada pembuluh darah organ tubuh tertentu seperti otak, hati dan ginjal sehingga menyebabkan tersumbatnya pembuluh darah organ-organ tubuh tersebut.
Pada penderita ,malaria berat masih ditambah lagi dengan gejala-gejala seperti : gangguan kesadaran, kejang-kejang, diare, bahkan sampai kehilangan kesadaran (coma).
H. GAMBARAN KLINIS
1. Periode Dingin
a. Menggigil
b. Kulit dingin dan kering
c. Gigi-gigi saling terantuk
d. Pucat sampai sianosis
2. Periode Panas
a. Muka memerah
b. Kulit panas dan kering
c. Nadi cepat
d. Panas badan tinggi sampai 40°C atau >
e. Respirasi meningkat
f. Nyeri kepala, nyeri retro-orbital
g. Muntah-muntah, dapat terjadi shock (hipotensi)
h. Kesadaran delirium sampai terjadi kejang (anak)
3. Periode Berkeringat
Penderita berkeringat mulai dari temporal diikuti seluruh tubuh sampai basah, temperature turun
I. KOMPLIKASI
Penyakit malaria dapat menimbulkan komplikasi berupa
1. Gangguan sistem saraf pusat. Gangguan ini disebabkan penyumbatan aliran darah akibat sel darah merah yang rusak.
2. Gagal ginjal akut. Gangguan ini disebabkan pula oleh sumbatan aliran darah ginjal oleh sel darah merah yang rusak sehingga sistem penyaringan ginjal terjadi kegagalan yang menyebabkan tidak dapat dibuangnya racun di dalam tubuh.
3. Kelainan hati. Diakibatkan kerusakan sel hati oleh parasit-parasit yang menginfeksi sel hati. Ditandai dengan peningkatan serum hati (SGOT/SGPT)
4. Blackwater Fever. Merupakan gabungan gejala yang terdiri atas serangan akut, menggigil, demam, hemolisis intravaskular, urin berwarna merah, dan gagal ginjal. Kondisi ini terjadi biasanya pada infkesi P. Falciparum yang berulang dan pengobatan yang tidak cukup.
5. Perdarahan. Akibat gangguan sistem perdarahan terjadi penurunan jumlah trombosit dan perdarahan pun terjadi.
6. Bengkak paru. Merupakan komplikasi paling berat.
J. PENATALAKSANAAN
Untuk pengobatan malaria dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu :
1. Pengobatan pencegahan untuk ibu hamil
Obat diminum selama kehamilan, seminggu sekali pada hari yang sama. Obat tidak boleh diminum dalam keadaan perut kosong.
2. Pengobatan penderita malaria klinis
Pengobatan diberikan satu kali pada setiap tersangka penderita setelah dibuat sediaan darahnya. Obat langsung diminum sesuai dosis. Obat tidak boleh diminum dalam keadaan perut kosong.
3. Pengobatan lanjutan
Pengobatan lanjutan diberikan kepada penderita yang ternyata sediaan darahnya positif dalam pemeriksaan. Obat diminum secara berturut-turut sesuai dosis. Tujuanpengobatan ini adalah untuk mengobati secara tuntas. Obat tidak boleh diminum dalam keadaan perut kosong.
Tindakan umum penderita malaria
1. Pertahankan fungsi vital : nadi, tekanan darah, pernafasan dan cairan
2. Hindari trauma lain : menjaga tidak jatuh atau terkena tempat tidur
3. Pengawasan fungsi vital
4. Baringkan sesuai kebutuhan. Apabila nadi lemah posisikan kaki lebih tinggi dari kepala
5. Hati-hati bila ada muntahan. Segera baringkan ke samping dan bersihkan semua muntahan
6. Mengurangi demam. Kompres air/alkohol/air es, kipas, baju yang tipis/terbuka, cairan cukup.
7. Asupan cairan per mulut secukupnya, dihitung cairan yang masuk dan cairan yang keluar (air seni)
8. Asupan makanan : makanan lunak, porsi kecil tetapi sering
9. Kebersihan tubuh. Bersihkan bila ada kotoran di tubuh
K. PENCEGAHAN DAN VAKSIN MALARIA
Tindakan pencegahan terutama untuk mereka yang tidak berasal dari daerah endemis malaria (diperkirakan tidak memiliki imun terhadap malaria), tindakah yang paling mudah dapat berupa :
1. Tidur dengan kelambu
2. Menggunakan obat pembunuh nyamuk
3. Mencegah berada di alam bebas (nyamuk sering menggigit antara pukul 18.00 – 06.00)
4. Menggunakan kawat anti nyamuk di jendela kamar
Kemoprofilaktik dapat digunakan dengan mengkonsumsi obat klorokuin 2 tablet (250 mg) tiap minggu, selama 1 minggu sebelum berangkat dan dilanjutkan sampai 4 minggu setelah tiba kembali. Pada daerah resisten klorokuin dapat menggunakan doksisiklin 100 mg/hari atau mefloquin 250 mg/minggu atau klorokuin 2 tablet/minggu + proguanil 200 mg/hari. Obat lain yang dapat di gunakan sebagai pencegah yaitu primakuin dosis 0,5 mg/kgBB/hari (Etaquin, atovaquone / proguanil dan azitromycin).
Vaksin malaria sampai saat ini masih di kembangkan dan diteliti efektifitasnya karena banyaknya antigen yang terdapat pada plasmodium.

DAFTAR PUSTAKA
http://mtcdempet.wordpress.com/2011/12/20/penyakit-malaria/. 16-Maret-2012
http://dinkes.tasikmalayakota.go.id/index.php/informasi-penyakit/200-malaria.html.
16-Maret-2012
http://herodessolutiontheogeu.blogspot.com/2010/11/penyakit-malaria.html.
16-Maret-2012
http://herodessolutiontheogeu.blogspot.com/2010/11/penyakit-malaria.html.
16-Maret-2012
READ MORE - Konsep Penyakit Malaria

Konsep Penyakit Malaria

KONSEP PENYAKIT MALARIA

A. PENGERTIAN
Malaria adalah penyakit menular yang disebabkan oleh protozoa obligat intraseluler dari genus plasmodium yang ditularkan melalui gigitan nyamuk yang terinfeksi parasit tersebut, dapat menyerang semua orang dari semua jenis umur, golongan dan jenis kelamin. Selain menginfeksi manusia parasit ini juga menghinfeksi golongan burung, reptil dan mamalia.
Di dalam tubuh manusia, parasit Plasmodium akan berkembang biak di organ hati kemudian menginfeksi sel darah merah. Pasien yang terinfeksi oleh malaria akan menunjukan gejala awal menyerupai penyakit influenza, namun bila tidak diobati maka dapat terjadi komplikasi yang berujung pada kematian.
Penyakit ini paling banyak terjadi di daerah tropis dan subtropis di mana parasit Plasmodium dapat berkembang baik begitu pula dengan vektor nyamuk Anopheles. Daerah selatan Sahara di Afrika dan Papua Nugini di Oceania merupakan tempat-tempat dengan angka kejadian malaria tertinggi.
Berdasarkan data di dunia, penyakit malaria membunuh satu anak setiap 30 detik. Sekitar 300-500 juta orang terinfeksi dan sekitar 1 juta orang meninggal karena penyakit ini setiap tahunnya. 90% kematian terjadi di Afrika, terutama pada anak-anak.
Berdasarkan sejarahnya infeksi malaria sudah ada sejak 1750 SM di Cina 1700 SM di Mesir. Penyakit ini sempat menyebabkan kematian yang besar pada milenium ke-3 di negara berkembang dan negara maju. Dan diperkirakan sekarang ini diperkirakan satu juta penduduk meninggal pertahun, dan kasus terjadi 200-300 juta/tahun.

Pengontrolan terhadap penyakit ini dilakukan dengan berbagai cara, dari di temukannya obat pembunuh nyamuk dan di temukannya kina. Penatalaksanaan ini hanya dapat mengontrol di berbagai daerah saja terutama Jawa dan Bali, tetapi sampai sekarang masih didapatkan kantung-kantung malaria terutama di Indonesia bagian timur.
Jenis-jenis malaria :
1. Malaria Tropika (Plasmodium Falcifarum)
Merupakan bentuk yang paling berat, ditandai panas yang ireguler, anemia, splenomegali, parasitemia yang banyak dan sering terjadi komplikasi. Masa inkubasi 9-14 hari. Malaria tropika menyerang semua bentuk eritrosit. Disebabkan oleh plasmodium falciparum. Plasmodium ini berupa ring/cincin kecil yang berdiameter 1/3 diameter eritrosit normal dan merupakan satu-satunya spesies yang memiliki 2 kromatin inti (Double Chromatin).
2. Malaria Kwartana (Plasmodium Malariae)
Plasmodium Malariae mempunyai tropozoit yang serupa dengan Plasmoduimvivax, lebih kecil dan sitoplasmanya lebih kompak/ lebih biru. Tropozoit matur mempunyai granula coklat tua sampai hitam dan kadang-kadang mengumpulsampai membentuk pita. Skizon Plasmodium malariae mempunyai 8-10 merozoityang tersusun seperti kelopak bunga/ rossete. Bentuk gametosit sangat miripdengan Plasmodium vivax tetapi lebih kecil.Ciri-ciri demam tiga hari sekali setelah puncak 48 jam. Gejala lain nyeri padakepala dan punggung, mual, pembesaran limpa, dan malaise umum. Komplikasiyang jarang terjadi namun dapat terjadi seperti sindrom nefrotik dan komplikasiterhadap ginjal lainnya. Pada pemeriksaan akan di temukan edema, asites,proteinuria, hipoproteinemia, tanpa uremia dan hipertensi.
3. Malaria Ovale (Plasmodium Ovale)
Malaria Tersiana (Plasmodium Ovale) bentuknya mirip Plasmodium malariae,skizonnya hanya mempunyai 8 merozoit dengan masa pigmen hitam di tengah.Karakteristik yang dapat di pakai untuk identifikasi adalah bentuk eritrosit yangterinfeksi Plasmodium Ovale biasanya oval atau ireguler dan fibriated. Malariaovale merupakan bentuk yang paling ringan dari semua malaria disebabkan olehPlasmodium ovale. Masa inkubasi 11-16 hari, walau pun periode laten sampai 4tahun. Serangan paroksismal 3-4 hari dan jarang terjadi lebih dari 10 kali walaupun tanpa terapi dan terjadi pada malam hari.
4. Malaria Tersiana (Plasmodium Vivax)
Malaria Tersiana (Plasmodium Vivax) biasanya menginfeksi eritrosit muda yangdiameternya lebih besar dari eritrosit normal. Bentuknya mirip denganplasmodium Falcifarum, namun seiring dengan maturasi, tropozoit vivax berubahmenjadi amoeboid. Terdiri dari 12-24 merozoit ovale dan pigmen kuning tengguli.Gametosit berbentuk oval hampir memenuhi seluruh eritrosit, kromatinineksentris, pigmen kuning. Gejala malaria jenis ini secara periodik 48 jam dengangejala klasik trias malaria dan mengakibatkan demam berkala 4 hari sekali denganpuncak demam setiap 72 jam.
B. ETIOLOGI
Malaria pada manusia disebabkan oleh beberapa jenis Plasmodium yaitu Plasmodium Malariae, Plasmodium Vivax, Plasmodium Falciparum dan Plasmodium Ovale.
C. PATOFISIOLOGI
Seseorang dapat terkena malaria pada umumnya penularannya melalui gigitan nyamuk betina dari tribus Anopheles. Bila nyamuk anopheles menggigit penderita malaria, maka parasit akan ikut terhisap bersama darah penderita. Dalam tubuh nyamuk parasit tersebut akan berkembang dan bertambah banyak. Dalam beberapa hari bila nyamuk tersebut menggigit orang yang sehat, maka parasit tersebut akan ikut ditularkan ke orang tersebut. Parasit tersebut kemudian berkembang dan bertambah banyak dan menyerang Sel-Sel Darah Merah dan selang beberapa hari kemudian orang tersebut akan terkena malaria. Selain oleh gigitan nyamuk, malaria dapat juga ditularkan secara langsung melalui transfusi darah atau jarum suntik yang tercemar darah yang mengandung malaria serta dari ibu hamil kepada bayinya.
Beberapa jenis malaria yaitu plasmodium falciparum, plasmodium malariae, plasmodium vivax dan ovale. Infeksi malaria pada manusia mulai bila nyamuk anopheles betina menggigit manusia dan nyamuk akan melepaskan parasit-parasit ke dalam pembuluh darah dimana sebagian besar dalam waktu 45 menit akan menuju ke hati dan sebagian kecil sisanya akan mati di darah. Parasit akan berkembang di dalam hati yang akan merubah bentuk dan menyebar di seluruh pembuluh darah, dan pada plasmodium vivax dan ovale akan menjadi bentuk yang dapat bertahan bertahun-tahun yang memungkinkan terjadinya malaria berulang.
Setelah berada didalam darah parasit akan masuk ke dalam eritrosit, memakan enzim darah dan berkembang biak membentuk beberapa parasit yang lebih kecil lagi. Pada suatu saat sel darah merah tersebut akan pecah dan mengeluarkan 6-36 parasit / satu sel darah merah, yang akan menginfeksi sel darah merah lainnya. Parasit-parasit ini akan beredar didalam darah menginfeksi sel darah lainnya atau bila terdapat nyamuk yang sesuai, parasit-parasit tersebut akan berkembang biak di dalam badan nyamuk dan membentuk parasit seperti pertama lagi.
Dalam perjalanan hidup parasit didalam pembuluh darah yang menyebabkan timbul gejala-gejala malaria. Pada saat malaria didalam darah, ada sebagian malaria yang dihancurkan oleh organ limpa, menyebabkan organ limpa menjadi lebih besar dari normal. Pecahnya sel darah merah dalam jumlah yang banyak akan menyebabkan kekurangan darah (anemia). Reaksi tubuh terhadap parasit, dan racun-racun yang dikeluarkan parasit menyebabkan timbul keluhan peradangan seperti demam, lemas badan.

D. DIAGNOSIS
Diagnosis malaria dapat mendekati dengan anamnesa yang tepat, seperti asal penderita, apakah pernah berada di daerah endemik malaria, riwayat berpergian ke daerah endemik malaria, riwayat pengobatan.
Pemeriksaan tetes darah merupakan pemeriksaan yang paling mudah dan dapat menegakkan secara tepat kasus malaria. Pemeriksaan malaria sebaiknya dilakukan di laboratorium dengan cara tetesan darah tebal atau tetesan darah tipis. Apabila didapatkan satu kali hasil negatif belum dapat menghilangkan kemungkinan malaria, apabila dilakukan 3 kali pemeriksaan dan hasil negatif, diagnosis tidak ada malaria dapat di tegakkan Pemeriksaan lain dapat berupa tes antigen P-F test (antigen plasmodium falciparum), tes serologis, dan tes DNA
E. MASA INKUBASI
Masa inkubsi adalah waktu mulai terjadinya infeksi sampai timbulnya gejala klinis. Masa inkubasi bervariasi antara 9 – 30 hari, tergantung pada spesies parasit. Paling pendek pada P. Falciparum dan paling panjang pada P. Malariae. Masa inkubasi juga tergantung pada intensitas infeksi, pengobatan yang pernah didapat sebelumnya dan derajat imunitas pejamu. Pada malaria akibat transfuse darah, masa inkubasi P. Falciparum adalah 10 hari, P. Vivax 16 hari, P. Malariae 40 hari atau lebih setelah transfuse. Masa inkubasi secara alamiahnya :
1. Plasmodium Falciparum = 12 hari
2. Plasmodium Vivax = 13 - 17 hari
3. Plasmodium Ovale = 13 – 17 hari
4. Plasmodium Malriae = 28 – 30 hari
F. MASA PREPATEN
Masa prepaten adalah waktu antara terjadinya infeksi sampai ditemukannya parasit dalam darah.
1. Plasmodium
2. Periode pre-paten (hari)
3. Falciparum 11
4. Vivax 12,2
5. Ovale 12
6. Malariae 32,7
G. GEJALA KLINIS
Secara klinis, gejala malaria infeksi tunggal pada pasien non imun terdiri atas beberapa serangan demam dengan interval tertentu (paroksisme), yang diselingi oleh suatu periode (periode laten) bebas demam. Sebelum demam pasien biasanya merasa lemah, nyeri kepala, tidak ada nafsu makan, mual atau muntah.
Periode paroksisme terdiri dari tiga stadium yang berurutan yakni : stadium dingin (cold stage), stadium demam (hot stage) dan stadium berkeringat (sweating stage).
1. Stadium Dingin
Stadium ini diawali dengan gejala mengigil dan perasaan yang sangat dingin, gigi gemeretak dan pasien biasa menutupi tubuhnya dengan segala macam pakaian dan selimut. Nadi cepat tetapi lemah, bibir dan jari-jari pucat atau sianosis, kulit kering dan pucat, pasien mungkin muntah dan pada anak sering terjadi kejang. Stadium ini berlangsung antara 15 menit – 1 jam.
2. Stadium Demam
Pada stadium ini pasien merasa kepanasan, muka merah, kulit kering dan terasa sangat panas seperti terbakar, nyeri kepala, sering kali terjadi mual dan muntah, nadi menjadi kuat lagi. Biasanya pasien menjadi haus dan suhu badan dapat meningkat sampai 41° C atau lebih. Ini berlangsung antara 2 – 12 jam. Demam disebab kan oleh pecahnya skozon dalam sel darah merah yang telah matang dan masuknya morosit darah kedalam aliran darah. Pada P. Vivax dan P. Ovale skizon dari setiap generasi menjadi matang setiap 48 jam sekali sehingga timbul demam setiap hari ke-3 terhitung dari serangan demam sebelumnya. Pada P. Malriae, demam terjadi pada 72 jam setiap hari ke-4 sehingga disebut malaria kuartana. Pada P. Falciparum setiap 24 – 48 jam.
3. Stadium Berkeringan
Pada stadium ini pasien berkeringant banyak sekali, tempat tidurnya basah, suhu badan menurun dengan cepat kadang-kadang sampai dibawah normal. Gejala di atas tidak selalu sama pada setiap pasien tergantung pada spesies parasit, berat infeksi dan umur pasien. Gejala klinis yang berat biasanya terjadi pada malaria tropika yang disebabkan oleh adanya kecenderungan parasit (bentuk trofozoid & skizon) untuk berkumpul pada pembuluh darah organ tubuh tertentu seperti otak, hati dan ginjal sehingga menyebabkan tersumbatnya pembuluh darah organ-organ tubuh tersebut.
Pada penderita ,malaria berat masih ditambah lagi dengan gejala-gejala seperti : gangguan kesadaran, kejang-kejang, diare, bahkan sampai kehilangan kesadaran (coma).
H. GAMBARAN KLINIS
1. Periode Dingin
a. Menggigil
b. Kulit dingin dan kering
c. Gigi-gigi saling terantuk
d. Pucat sampai sianosis
2. Periode Panas
a. Muka memerah
b. Kulit panas dan kering
c. Nadi cepat
d. Panas badan tinggi sampai 40°C atau >
e. Respirasi meningkat
f. Nyeri kepala, nyeri retro-orbital
g. Muntah-muntah, dapat terjadi shock (hipotensi)
h. Kesadaran delirium sampai terjadi kejang (anak)
3. Periode Berkeringat
Penderita berkeringat mulai dari temporal diikuti seluruh tubuh sampai basah, temperature turun
I. KOMPLIKASI
Penyakit malaria dapat menimbulkan komplikasi berupa
1. Gangguan sistem saraf pusat. Gangguan ini disebabkan penyumbatan aliran darah akibat sel darah merah yang rusak.
2. Gagal ginjal akut. Gangguan ini disebabkan pula oleh sumbatan aliran darah ginjal oleh sel darah merah yang rusak sehingga sistem penyaringan ginjal terjadi kegagalan yang menyebabkan tidak dapat dibuangnya racun di dalam tubuh.
3. Kelainan hati. Diakibatkan kerusakan sel hati oleh parasit-parasit yang menginfeksi sel hati. Ditandai dengan peningkatan serum hati (SGOT/SGPT)
4. Blackwater Fever. Merupakan gabungan gejala yang terdiri atas serangan akut, menggigil, demam, hemolisis intravaskular, urin berwarna merah, dan gagal ginjal. Kondisi ini terjadi biasanya pada infkesi P. Falciparum yang berulang dan pengobatan yang tidak cukup.
5. Perdarahan. Akibat gangguan sistem perdarahan terjadi penurunan jumlah trombosit dan perdarahan pun terjadi.
6. Bengkak paru. Merupakan komplikasi paling berat.
J. PENATALAKSANAAN
Untuk pengobatan malaria dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu :
1. Pengobatan pencegahan untuk ibu hamil
Obat diminum selama kehamilan, seminggu sekali pada hari yang sama. Obat tidak boleh diminum dalam keadaan perut kosong.
2. Pengobatan penderita malaria klinis
Pengobatan diberikan satu kali pada setiap tersangka penderita setelah dibuat sediaan darahnya. Obat langsung diminum sesuai dosis. Obat tidak boleh diminum dalam keadaan perut kosong.
3. Pengobatan lanjutan
Pengobatan lanjutan diberikan kepada penderita yang ternyata sediaan darahnya positif dalam pemeriksaan. Obat diminum secara berturut-turut sesuai dosis. Tujuanpengobatan ini adalah untuk mengobati secara tuntas. Obat tidak boleh diminum dalam keadaan perut kosong.
Tindakan umum penderita malaria
1. Pertahankan fungsi vital : nadi, tekanan darah, pernafasan dan cairan
2. Hindari trauma lain : menjaga tidak jatuh atau terkena tempat tidur
3. Pengawasan fungsi vital
4. Baringkan sesuai kebutuhan. Apabila nadi lemah posisikan kaki lebih tinggi dari kepala
5. Hati-hati bila ada muntahan. Segera baringkan ke samping dan bersihkan semua muntahan
6. Mengurangi demam. Kompres air/alkohol/air es, kipas, baju yang tipis/terbuka, cairan cukup.
7. Asupan cairan per mulut secukupnya, dihitung cairan yang masuk dan cairan yang keluar (air seni)
8. Asupan makanan : makanan lunak, porsi kecil tetapi sering
9. Kebersihan tubuh. Bersihkan bila ada kotoran di tubuh
K. PENCEGAHAN DAN VAKSIN MALARIA
Tindakan pencegahan terutama untuk mereka yang tidak berasal dari daerah endemis malaria (diperkirakan tidak memiliki imun terhadap malaria), tindakah yang paling mudah dapat berupa :
1. Tidur dengan kelambu
2. Menggunakan obat pembunuh nyamuk
3. Mencegah berada di alam bebas (nyamuk sering menggigit antara pukul 18.00 – 06.00)
4. Menggunakan kawat anti nyamuk di jendela kamar
Kemoprofilaktik dapat digunakan dengan mengkonsumsi obat klorokuin 2 tablet (250 mg) tiap minggu, selama 1 minggu sebelum berangkat dan dilanjutkan sampai 4 minggu setelah tiba kembali. Pada daerah resisten klorokuin dapat menggunakan doksisiklin 100 mg/hari atau mefloquin 250 mg/minggu atau klorokuin 2 tablet/minggu + proguanil 200 mg/hari. Obat lain yang dapat di gunakan sebagai pencegah yaitu primakuin dosis 0,5 mg/kgBB/hari (Etaquin, atovaquone / proguanil dan azitromycin).
Vaksin malaria sampai saat ini masih di kembangkan dan diteliti efektifitasnya karena banyaknya antigen yang terdapat pada plasmodium.

DAFTAR PUSTAKA
http://mtcdempet.wordpress.com/2011/12/20/penyakit-malaria/. 16-Maret-2012
http://dinkes.tasikmalayakota.go.id/index.php/informasi-penyakit/200-malaria.html.
16-Maret-2012
http://herodessolutiontheogeu.blogspot.com/2010/11/penyakit-malaria.html.
16-Maret-2012
http://herodessolutiontheogeu.blogspot.com/2010/11/penyakit-malaria.html.
16-Maret-2012
READ MORE - Konsep Penyakit Malaria

PIL KB KOMBINASI

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kontrasepsi adalah upaya untuk mencegah terjadinya kehamilan. Upaya ini dapat bersifat sementara, dapat pula bersifat permanen. Penggunaan kontrasepsi merupakan variabel yang mempengaruhi fertilitas.
Pengaruh pada korpus luteum yang menghambat ovulasi telah diketahui pada awal abad ke 20. Semenjak saat itu perkembangan kontrasepsi hormonal berlangsung terus. Tahun 1960 pil kombinasi estrogen-progesteron mulai digunakan. Tahun 1963 pil sekuensial diperkenalkan. Sejak tahun 1965 sampai sekarang banyak diadakan penyesuaian dosis atau penggunaan progesteron saja, sehingga muncul pil mini, dan lain-lain. Perkembangan ini pada umumnya bertujuan mencari suatu kontrasepsi hormonal yang daya guna tinggi, efek sampingan minimal, dan keluhan pasien yang sekecil-kecilnya.
Lebih dari 13 juta wanita di Amerika Serikat menggunakan salah satu di antara sejumlah preparat kontrasepsi hormonal yang tersedia untuk mengendalikan kehamilan. Meskipun kontrasepsi hormonal menggambarkan kejadian dramatis ditinggalkannya berbagai metode kontrasepsi tradisional yang dipakai sebelumnya, preparat tersebut juga menciptakan suatu dilema terapeutik yang unik.
Ada beberapa macam kontrasepsi hormonal yang saat ini dapat dipergunakan dan menjadi pilihan untuk wanita. Kontrasepsi hormonal ini juga dapat diterima dan dilaksanakan oleh pasangan dalam program keluarga berencana di seluruh dunia. Metoda KB hormonal memakai obat-obatan yang mengandung 2 hormon, estrogen dan progestin. Keduanya serupa dengan hormon – hormon alamiah yang dihasilkan tubuh, yakni estrogen dan progesteron.
B. Tujuan
1. Untuk mengetahui Pengertian kontrasepsi dengan pil KB Kombinasi.
2. Untuk mengetahui jenis-jenis dari pil KB Kombinasi.
3. Untuk mengetahui Manfaat dan Keterbatasan pil KB Kombinasi.
4. Untuk mengetahui Indikasi dan kontra indikasi dari pil KB Kombinasi.
5. Untuk Mengetahui Penapisan Medis dan Efek Samping Pil KB Kombinasi














BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian
Kontrasepsi pil kombinasi adalah pil yang mengandung sintetik estrogen dan preparat progesteron yang mencegah kehamilan dengan cara menghambat terjadinya ovulasi (pelepasan sel telur oleh indung telur) melalui penekanan hormon LH dan FSH, mempertebal lendir mukosa serviks (leher rahim), dan menghalangi pertumbuhan lapisan endometrium. Pil kombinasi ada yang memiliki estrogen dosis rendah dan ada yang mengandung estrogen dosis tinggi. Estrogen dosis tinggi biasanya diberikan kepada wanita yang mengkonsumsi obat tertentu (terutama obat epilepsy). Selain untuk kontrasepsi, pil kombinasi dapat digunakan untuk menangani dismenorea (nyeri saat haid), menoragia, dan metroragia. Pil kombinasi tidak direkomendasikan untuk wanita menyusui, sampai minimal 6 bulan setelah melahirkan. Estrogen yang terdapat di dalam pil kombinasi yang diminum oleh ibu menyusui, dapat mengurangi jumlah air susu dan kandungan zat lemak serta protein dalam ASI. Karena itu untuk ibu menyusui sebaiknya diberikan tablet yang hanya mengandung progestin, yang tidak mempengaruhi pembentukan air susu.
Pil KB kombinasi mengandung hormon aktif dan hormon tidak aktif, termasuk:
1. Conventional Pack.
Paket konvensional biasanya berisi 21 pil dengan hormon aktif dan 7 pil dengan hormon tidak aktif atau 24 pil aktif dan empat pil tidak aktif. Haid terjadi setiap bulan selama seminggu ketika minum pil pada hari ke 4-7 dari pil terakhir yang tidak aktif.
2. Continuous Dosing or Extended Cycle
Merupakan pil kombinasi yang berisi 84 pil dengan hormon aktif dan 7 pil dengan hormon tidak aktif. Haid terjadi setiap empat kali setahun selama seminggu ketika minum pil pada hari ke 4-7 dari pil terakhir yang tidak aktif. Tersedia juga pil KB yang mengandung 28 pil dengan hormon aktif yang dapat mencegah haid.

B. Jenis – Jenis Pil Kombinasi
Jenis pil kombinasi atau combination oral contraceptive pill antara lain:.
1. Monofasik
Monofasik adalah pil kombinasi yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung hormon aktif estrogen dan progesteron dalam dosis yang sama, dengan 7 tablet tanpa hormon aktif.
2. Bifasik
Bifasik adalah pil kombinasi yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung hormon aktif estrogen dan progesteron dengan dua dosis yang berbeda, dengan 7 tablet tanpa hormon aktif.
3. Trifasik
Trifasik adalah pil kombinasi yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung hormon aktif estrogen dan progesteron dengan tiga dosis yang berbeda, dengan 7 tablet tanpa hormon aktif.


C. Cara Kerja
Pil kombinasi atau combination oral contraceptive pill mempunyai cara kerja sebagai berikut:
1. Mencegah implantasi.
2. Menghambat ovulasi.
3. Mengentalkan lendir serviks.
4. Memperlambat transportasi ovum.
5. Menekan perkembangan telur yang telah dibuahi.

D. Efektifitas
Efektifitas pil kombinasi lebih dari 99 persen, apabila digunakan dengan benar dan konsisten. Ini berarti, kurang dari 1 orang dari 100 wanita yang menggunakan pil kombinasi akan hamil setiap tahunnya. Metode ini juga merupakan metode yang paling reversibel, artinya bila pengguna ingin hamil bisa langsung berhenti minum pil dan biasanya bisa langsung hamil dalam waktu 3 bulan.

E. Manfaat
Pil kombinasi memberikan manfaat antara lain:
1. Resiko terhadap kesehatan kecil.
2. Memiliki efektifitas tinggi, apabila diminum secara teratur.
3. Tidak mengganggu hubungan seksual.
4. Siklus haid teratur.
5. Dapat mengurangi kejadian anemia.
6. Dapat mengurangi ketegangan sebelum menstruasi (pre menstrual tension).
7. Dapat digunakan dalam jangka panjang.
8. Mudah dihentikan setiap waktu.
9. Dapat digunakan sebagai kontrasepsi darurat.
10. Dapat digunakan pada usia remaja sampai menopause.
11. Membantu mengurangi kejadian kehamilan ektopik, kanker ovarium, kanker endometrium, kista ovarium, penyakit radang panggul, kelainan jinak pada payudara, dismenorea dan jerawat.

F. Keterbatasan
Pil kombinasi mempunyai keterbatasan antara lain:
1. Tidak mencegah penyakit menular seksual termasuk Hepatitis B maupun HIV/AIDS.
2. Pengguna harus minum pil setiap hari.
3. Tidak boleh digunakan pada wanita menyusui.
4. Mahal.
5. Repot.

G. Indikasi Pil Kombinasi
Pada prinsipnya hampir semua wanita yang ingin menggunakan pil kombinasi diperbolehkan, seperti:
1. Wanita dalam usia reproduksi.
2. Wanita yang telah atau belum memiki anak.
3. Wanita yang gemuk atau kurus.
4. Wanita setelah melahirkan dan tidak menyusui.
5. Wanita yang menginginkan metode kontrasepsi dengan efektifitas tinggi.
6. Wanita pasca keguguran/abortus.
7. Wanita dengan perdarahan haid berlebihan sehingga menyebabkan anemia.
8. Wanita dengan siklus haid tidak teratur.
9. Wanita dengan nyeri haid hebat, riwayat kehamilan ektopik, kelainan payudara jinak.
10. Wanita dengan diabetus melitus tanpa komplikasi pada ginjal, pembuluh darah, mata dan saraf.
11. Wanita dengan penyakit tiroid, penyakit radang panggul, endometriosis atau tumor jinak ovarium.
12. Wanita yang menderita tuberkulosis pasif.
13. Wanita dengan varises vena.

H. Kontraindikasi Pil Kombinasi
Kriteria yang tidak dapat menggunakan pil kombinasi terbagi dalam:
1. Wanita yang menyusui Eksklusif
Estrogen yang terdapat di dalam pil kombinasi yang diminum oleh ibu menyusui, dapat mengurangi jumlah air susu dan kandungan zat lemak serta protein dalam ASI. Karena itu untuk ibu menyusui sebaiknya diberikan tablet yang hanya mengandung progestin, yang tidak mempengaruhi pembentukan air susu.
2. Riwayat gangguan faktor pembekuan darah atau kencing manis
Karena didalam pil KB terdapat progesteron dan estrogen. Progesteron berpengaruh terhadap metabolisme karbohidrat antara lain menurunkan jumlah dan afinitas reseptor insulin terhadap glukosa dan meningkatkan jumlah kortisol bebas, sehingga hasil akhirnya adalah meningkatnya kadar gula darah. Estrogen antara lain akan meningkatkan aktivitas pembekuan darah, sehingga akan memudahkan trombosis (pembekuan) di pembuluh darah, dengan akibat lanjut menyebabkan sumbatan dan gangguan pada aliran darah. Makin besar dosis estrogen yang diberikan, makin besar pula efeknya. Efek ini akan makin diperbesar dengan pengaruh anti-estrogen dan progesteron.
3. Penyakit hati dan kandung empedu.
Estrogen akan menyebabkan perubahan pada hasil tes faal hati. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pemakaian estrogen akan meningkatkan insiden radang kandung empedu dan pembentukan batu empedu. Efek ini diduga diakibatkan oleh lambatnya pengosongan kandung empedu, meningkatnya kadar kolesterol, dan menurunnya kadar asam empedu di dalam cairan empedu. Pemakaian obat-obatan yang melewati siklus hati, seperti antibiotik dan antikejang, akan menurunkan efektivitas pil KB.
4. Riwayat Hipertensi
Selain pengaruh dari obat – obat golongan kortikosteroid, kenaikan tekanan darah juga dipengaruhi oleh obat-obatan yang mengandung hormon, salah satunya yaitu pil KB. Karena dalam pil KB mengandung hormon estrogen dan progesteron yang diminum secara terus menerus maka akan terjadi peningkatan hormon sehingga dapat meningkatkan tekanan darah. Tekanan darah tinggi (hipertensi) dapat terjadi pada 5% pemakai pil KB. Hal ini dipengaruhi usia, jenis kelamin, suku dan riwayat keluarga. Tekanan darah akan meningkat secara bertahap dan bersifat tak menetap. Jika hipertensi menetap setelah pil KB dihentikan, berarti telah terjadi perubahan permanen pada pembuluh darah akibat aterosklerosis.
5. Tromboemboli dan Wanita Perokok
Penelitian menunjukkan bahwa pemakaian pil KB meningkatkan kejadian tromboemboli dan gangguan pembuluh darah otak. Tromboemboli terjadi akibat perubahan sistem pembekuan darah akibat estrogen, disamping efek aterosklerosis oleh pengaruh progesteron. Risiko akan meningkat pada perokok dan berkurang bila dosis estrogen dikurangi. Risiko tromboemboli ini tidak dipengaruhi oleh lamanya pemakaian pil KB.

I. Penapisan Medis
Kondisi Pil kombinasi
Karakteristik pribadi dan riwayat reproduksi
Kehamilan -
Usia Menarche
40 : 1
≥40 : 2
Paritas
1. Nulipara
2. Multipara
1
1
Laktasi
1. <6minggu pasca persalinan 2. 6-<6bulan laktasi 3. ≥6bulan pasca persalinan 4 3 2 Pasca persalinan (tanpa laktasi) 1. <21hari 2. ≥21hari 3 1 Pasca keguguran 1. TM I 2. TM II 3. Pasca abortus septic 1 1 1 Pasca kehamilan ektopik 1 Riwayat operasi pelvis (termasuk SC) 2 Merokok 1. Usia <35tahun 2. Usia ≥35tahun • <15 batang perhari • ≥15 batang perhari 2 3 4 Obesitas ≥30kg/m2 body mass index (BMI) 2 Penyakit kardiovaskuler Factor risiko multiple penyakit kardiovaskuler (seperti usia tua, merokok, DM, hipertensi) 3/4 Hipertensi 1. Riwayat hipertensi tdk dpt dievaluasi, termasuk hipertensi dalam kehamilan 2. Hipertensi terkontrol 3. Tekanan darah meningkat • Sistolik 140-160 atau diastole 90-100 • Sistolik >160 atau diastole >100
4. Penyakit vascular
3

3

3
4
4
Riwayat hipertensi dalam kehamilan 2
Thrombosis vena dalam / emboli paru
1. Riwayat TVD/EP
2. TVD/EP saat ini
3. Riwayat keluarga dengan TVD/EP
4. Bedah mayor
• Imobilisasi lama
• Tanpa imobilisasi lama
5. Bedah minor tanpa imobilisasi
4
4
2

4
2
1
Thrombosis vena permukaan
1. Varises
2. Tromboflebitis
1
2
Riwayat penyakit jantung iskemik 4
Stroke
Riwayat kardiovaskuler acident 4
Hiperhipidemia 2/3b
Penyakit katup jantung
1. Tanpa komplikasi
2. Dengan komplikasi (hipertensi pulmonal, fibrilasi atrial, endokarditis bacterial sub akut

2
4
Kondisi neurogis
Nyeri kepala
1. Nonmigran (ringan/berat)
2. Migran
• Tanpa aura
Usia <35th Usia ≥35th • Dengan aura (semua usia) 1 2 3 4 Epilepsy 1 Depresi Depresi 1 Infeksi Dan Kelainan Alat Reproduksi PPV 1. Perdarahan irreguller 2. Perdarahan banyak/lama 1 1 PPV yg belum diketahui penyebabnya Sebelum penilaian 2 Endometriosis 1 Tumor ovarium jinak (termasuk kista) 1 Dismenorhea berat 1 Penyakit trofoblas 1. Trofoblas jinak 2. Trofoblas ganas 1 1 Ektropion serviks 1 NIS (Neoplasia Intra Serviks) 2 Kanker Serviks 2 Penyakit mamma 1. Masa tidak terdiagnosis 2. Penyakit mamma jinak 3. Riwayat kanker dalam keluarga 4. Kanker mamma • Saat ini • Riwayat lampau, tidak kambuh dalam 5th 2 1 1 4 3 Kanker endometrium 1 Kanker ovarium 1 Fibroma uteri 1. Tanpa gangguan kavum uteri 2. Dengan gangguan kavum uteri 1 1 Penyakit radang panggul 1. Riwayat PRP • Dg kehamilan • Tanpa kehamilan 2. PRP saat ini 1 1 1 IMS 1. Servisitis purulen/infeksi clamidia/gonorrhea 2. IMS lainnya kec HIV/AIDS dan Hepatitis 3. Vaginitis (trikomonas vaginitis dan vaginosis bacterial) 4. Risiko IMS meningkat 1 1 1 1 HIV/AIDS Resiko tinggi HIV 1 Terinfeksi HIV 1 AIDS 1 Infeksi Lain Skistosomiasis 1. Tanpa komplikasi 2. Fibrosis hati 1 1 Tuberkolosis 1. Non pelvis 2. Pelvis 1 1 Malaria 1 Penyakit Endokrin Diabetes 1. Riwayat DM gestasional 2. Penyakit non vascular • Non insulin dependent • Insulin dependent 3. Nefropati/retinopati/ neuropati 4. Penyakit vascular lain/DM > 20 th
1

2
2
3/4
3/4
Penyakit tyroid
1. Goiter
2. Hipertiroid
3. Hipotiroid
1
1
1
Penyakit gastrointestinal
Penyakit kandung empedu
1. Simptomatik
• Terapi koleksistektomi
• Diobati dengan obat saja
• Saat ini
2. Asimptomatik

2
3
3
2
Riwayat kolestasis
1. Berhubungan dengan kehamilan
2. Berhubungan dengan kontrasepsi
2
3
Hepatitis virus
1. Aktif
2. Karier
4
1
Sirosis
1. Ringan
2. Berat
3
4
Tumor hati
1. Jinak ( adenoma )
2. Malignan ( hepatoma )
4
4
Anemia
Talasemia 1
Penyakit bulan sabit 2
Anemia defisiensi Fe 1
Interaksi obat
Obat yang mempengaruhi enzim – enzim hati
1. Rivampisin
2. Antikonvulsan tertentu

3
3
Antibiotic
1. Gliseofulvin
2. Antibiotic lain
2
1
Terapi anti retroviral 2

J. Efek Samping
Efek samping yang dapat ditimbulkan dari penggunaan pil kombinasi ini antara lain:
1. Peningkatan risiko trombosis vena, emboli paru, serangan jantung, stroke dan kanker leher rahim.
2. Peningkatan tekanan darah dan retensi cairan.
3. Pada kasus-kasus tertentu dapat menimbulkan depresi, perubahan suasana hati dan penurunan libido.
4. Pusing, Mual, Muntah (terjadi pada 3 bulan pertama).
5. Kembung.
6. Perdarahan Pervaginam (bercak atau spotting) terjadi pada 3 bulan pertama.
7. Amenorea.
8. Nyeri payudara.
9. Kenaikan berat badan.






BAB III
PENUTUP


A. Kesimpulan
Kontrasepsi pil kombinasi adalah pil yang mengandung sintetik estrogen dan preparat progesteron yang mencegah kehamilan dengan cara menghambat terjadinya ovulasi (pelepasan sel telur oleh indung telur) melalui penekanan hormon LH dan FSH, mempertebal lendir mukosa serviks (leher rahim), dan menghalangi pertumbuhan lapisan endometrium.
Cara kerja pil kombinasi atau combination oral contraceptive pill Mencegah implantasi yaitu Menghambat ovulasi, Mengentalkan lendir serviks., Memperlambat transportasi ovum, Menekan perkembangan telur yang telah dibuahi.
Pil kombinasi mempunyai keterbatasan antara lain Tidak mencegah penyakit menular seksual termasuk Hepatitis B maupun HIV/AIDS, Pengguna harus minum pil setiap hari, Tidak boleh digunakan pada wanita menyusui, Mahal, Repot.

B. Saran
1. Sebaiknya pil KB diminum menjelang tidur setiap hari sehingga resiko lupa dapat diperkecil karena salah satu faktor keberhasilan dalam penggunaan pil KB adalah kedisiplinan untuk meminum pil KB.
2. Pemilihan penggunaan pil KB untuk pertama kali sebaiknya dikonsultasikan dengan tenaga kesehatan yang berkompeten di bidang ini dan sebaiknya dilakukan pemeriksaan teratur sesuai dengan yang dianjurkan.
DAFTAR PUSTAKA
Budi, S. 2008. Pil Kontrasepsi. Kuliahbi dan wordpress.com/2008/07/17/pil-kontrasepsi/ diunduh 06 Mei 2010, 12: 05 AM
Saifuddin, BA. 2008. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka. (Bagian Kedua MK 28 – MK 33).
READ MORE - PIL KB KOMBINASI

Tromboflebitis

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Sebagian besar kejadian kesakitan dan kematian ibu yang disebabkan oleh perdarahan paska persalinan terjadi empat jam pertama setelah kelahiran bayi. Karena itulah penting sekali untuk memantau ibu secara ketat, segera setelah setiap tahapan atau kala persalinan diselesaikan, khususnya pada saat setelah persalinan. Pemantauan ini berupa konsultasi paska persalinan di ruangan maupun pemeriksaan-pemeriksaan yang diperlukan. Jika tanda-tanda vital dan tonus uterus masih dalam batas normal selama dua jam pertama pasca persalinan, mungkin ibu tidak akan mengalami perdarahan paska persalinan. Penting sekali untuk tetap berada di samping ibu dan bayinya selama dua jam pertama pasca persalinan.
Tekanan darah dan denyut nadi harus diukur tiap 15 menit sekali, selama beberapa jam pertama setelah pelahiran, atau lebih sering bila ada indikasi tertentu. Pemijatan uterus untuk memastikan uterus menjadi keras juga diperlukan. Pemantauan suhu tubuh, perdarahan harus diawasi. Tidak dianjurkan menggunakan kain pembebat perut selama dua jam pertama pasca persalinan atau hingga ibu sudah stabil. Dalam beberapa hari setelah melahirkan suhu badan ibu sedikit naik antara 37,2-37,8 0C oleh karena resorbsi benda-benda dalam rahim dan mulainya laktasi. Dalam hal ini disebut demam resorbsi, hal ini adalah normal.
Infeksi nifas adalah keadaan yang mencakup semua peradangan alat-alat genitalia dalam masa nifas. Demam nifas adalah demam dalam masa nifas oleh sebab apapun. Mobilitas puereuralis adalah kenaikan suhu badan sampai 38 0C atau lebih selama 2 hari.
Dalam 10 hari pertama postpatum. Kecuali pada hari pertama. Suhu diukur 4x sehari secara oral (dari mulut). Beberapa faktor predisposisi:
1. Kurang gizi atau nutrisi
2. Anemia
3. Higiene
4. Kelelahan
5. Proses persalinan bermasalah:
a. Partus lama atau macet
b. Korioamnionitis
c. Persalinan traumatik
d. Kurang baiknya pencegahan infeksi
e. Manipulasi yang berlebihan
f. Dapat berlanjut keinfeksi dalam masa nifas
Bermacam-macam jalan masuk kuman kedalam alat kandungan, seperti eksogen (kuman datang dari luar), autogen (kuman masuk dari tempat lain dari dalam tubuh), dan endogen (dari jalan lahir sendiri):
1. Streptococcus Haemoliticus Aerobik
2. Staphylococcus aureus
3. Escherichia coli
Infeksi diklasifikasikan menjadi Infeksi terbatas lokasinya pada perineum, vulva, serviks, dan endometrium dan Infeksi yang menyebar ketempat lain melaui: pembuluh darah vena, pembuluh limfe dan endometrium (Rustam Muchtar, 1998).
Tomboflebitis merupakan inflamasi permukaan pembuluh darah disertai pembentukan pembekuan darah. Tomboflebitis cenderung terjadi pada periode pasca partum pada saat kemampuan penggumpalan darah meningkat akibat peningkatan fibrinogen; dilatasi vena ekstremitas bagian bawah disebabkan oleh tekanan keopala janin gelana kehamilan dan persalinan; dan aktifitas pada periode tersebut yang menyebabkan penimbunan, statis dan membekukan darah pada ekstremitas bagian bawah (Adele Pillitteri, 2007).

B. TUJUAN
1. Untuk mengetahui pengertian dari tromboflebitis
2. Untuk mengetahui jenis dari tromboflebitis
3. Untuk mengetahui etiologi dari tromboflebitis
4. Untuk mengetahui faktor predisposisi dari tromboflebitis
5. Untuk mengetahui tanda dan gejala dari tromboflebitis
6. Untuk mengetahui penatalaksanaan dari tromboflebitis














BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. PENGERTIAN
Tomboflebitis merupakan inflamasi permukaan pembuluh darah disertai pembentukan pembekuan darah. Tomboflebitis cenderung terjadi pada periode pasca partum pada saat kemampuan penggumpalan darah meningkat akibat peningkatan fibrinogen; dilatasi vena ekstremitas bagian bawah disebabkan oleh tekanan kepala janin selama kehamilan dan persalinan; dan aktifitas pada periode tersebut yang menyebabkan penimbunan, statis dan membekukan darah pada ekstremitas bagian bawah (Adele Pillitteri, 2007).
B. KLASIFIKASI
Tomboflebitis dibagi menjadi 2, yaitu:
1. Pelvio tromboflebitis
Pelvio tromboflebitis mengenai vena-vena dinding uterus dan ligamentum latum, yaitu vena ovarika, vena uterina dan vena hipograstika. Vena yang paling sering terkena ialah vena overika dekstra karena infeksi pada tempat implantasi plasenta terletak di bagian atas uterus; proses biasanya unilateral. Perluasan infeksi dari vena ovarika dekstra, mengalami inflamasi dan akan menyebabkan perisalpingo-ooforitis dan peridiapendisitis. Perluasan infeksi dari vena uterna ialah ke vena iliaka komunis. Biasanya terjadi sekitar hari ke-14 atau ke-15 pasca partum.
2. Tomboflebitis femoralis
Tromboflebitis femoralis mengenai vena-vena pada tungkai, misalnya vena vemarolis, vena poplitea dan vena safena. Sering terjadi sekitar hari ke-10 pasca partum.(Abdul Bari SAifudin, dkk., 2002).
C. ETIOLOGI
1. Perluasan infeksi endometrium
2. Mempunyai varises pada vena
3. Obesitas
4. Pernah mengalami tramboflebitis
5. Berusia 30 tahun lebih dan pada saat persalinan berada pada posisi litotomi untuk waktu yang lama
6. Memiliki insidens tinggi untuk mengalami tromboflebitis dalam keluarga.(Adele Pillitteri, 2007).

D. FAKTOR PREDISPOSISI
1. Riwayat bedah kebidanan
2. Usia lanjut
3. Multi paritas
4. Varices
5. Infeksi nifas
Trombosis bisa terdapat pada vena-vena kaki juga pada vena-vena panggul. Trombosis pada vena-vena yang dekat pada permukaan biasanya disertai peradangan, sehingga merupakan tromboflebitis. Adanya septikhema, dapat dibuktikan dengan jalan pembiakan kuman-kuman dari darah.

E. TANDA DAN GEJALA
1. Pelvio Tromboflebitis
a. Nyeri yang terdapat pada perut bagian bawah dan atau perut bagian samping, timbul pada hari ke-2-3 masa nifas dengan atau tanpa panas.
b. Penderita tampak sakit berat dengan gambaran karakteristik sebagai berikut:
1) Mengigil berulang kali, menggigil inisial terjadi sangat berat (30-40 menit) dengan interval hanya beberapa jam saja dan kadang-kadang 3 hari pada waktu menggigil penderita hampir tidak panas.
2) Suhu badan naik turun secara tajam (36 oC menjadi 40 oC) yang diikuti penurunan suhu dalam 1 jam (biasanya subfebris seperti pada endometritis)
3) Penyakit dapat langsung selama 1-3 bulan
4) Cenderung terbentuk pus, yang menjalar kemana-mana, terutama ke paru-paru
c. Abses pada pelvis
d. Gambaran darah
1) Terdapat leukositosis (meskipun setelah endotoksin menyebar ke sirkulasi, dapat segera terjadi leukopenia)
2) Untuk membuat kultur darah, darah diambil pada saat tepat sebelum mulainya menggigil, kultur darah sangat sukar dibuat karena bakterinya adalah anaerob.
3) Pada periksa dalam hampir tidak diketemukan apa-apa karena yang paling banyak terkena adalah vena ovarika; yang sulit dicapai pada pemeriksaan dalam.
2. Tromboflebitis femoralis
a. Keadaan umum tetap baik, suhu badan subfebris selama 7-10 hari, kemudian suhu mendadak naik kira-kira pada hari ke-10-20 yang disertai dengan menggigil dan nyeri sekali.
b. Pada salah satu kaki yang terkena, biasanya kaki kiri akan memberikan tanda-tanda sebagai berikut:
1) Kaki sedikit dalam keadaan fleksi dan rotasi keluar serta sukar bergerak, lebih panas dibandingkan dengan kaki lainnya.
2) Seluruh bagian dari salah satu vena pada kaki terasa tegang dan keras pada paha bagian atas
3) Nyeri hebat pada lipat paha dan daerah paha
4) Reflektorik akan terjadi spasmus arteria sehingga kaki menjadi bengkak, tegang, putih, nyeri, dan dingin dan pulsasi menurun.
5) Edema kadang-kadang terjadi sebelum atau sesudah nyeri dan pada umumnya terdapat pada paha bagian atas, tetapi lebih sering dimulai dari jari-jari kaki dan pergelangan kaki kemudian melus dari bawah ke atas.
6) Nyeri pada betis, yang terjadi spontan atau dengan memijat betis atau dengan meregangkan tendo akhiles (tanda homan positif).

F. PENATALAKSANAAN
1. Pelvio Tromboflebitis
a. Lakukan pencegahan terhadap endometritis dan tromboflebitis dengan menggunakan teknik aseptik yang baik.
b. Anjurkan penderita tirah baring untuk pemantauan gejala penyakit dan mencegah terjadinya emboli pulmonum.(Abdul Bari Saifudin, dkk., 2002)
2. Tromboflebitis Femoralis
a. Anjurkan ambulasi dini untuk meningkatkan sirkulasi pada ekstremitas bawah dan menurunkan kemungkinan pembentukan pembekuan darah.
b. Pastikan klien untuk tidak berada pada posisi litotomi dan menggantung kaki lebih dari 1 jam, dan pastikan untuk memberikan alas pada penyokong kaki guna mencegah adanya tekanan yaang kuat pada betis.
c. Sediakan stocking pendukung kepada klien pasca patrum yang memiliki varises vena untuk meningkatkan sirkulasi vena dan membantu mencegah kondisi stasis.
d. Instruksikan kepada klien untuk memakai stocking pendukung sebelum bangun pagi dan melepaskannya 2x sehari untuk mengkaji keadaan kulit dibawahnya.
e. Anjurkan tirah baring dan mengangkat bagian kaki yang terkena.
f. Berikan alat pemanas seperti lampu. Atau kompres hangat basah sesuai instruksi, pastikan bahwa berat dari kompres panas tersebut tidak menekan kaki klien sehingga aliran darah tidak terhambat.
g. Sediakan bed cradle untuk mencegah selimut menekan kaki yang terkena.
h. Ukur diameter kaki pada bagian paha dan betis dan kemudian bandingkan pengukuran tersebut dalam beberapa hari kemudian untuk melihat adanya peningkatan atau penurunan ukuran.
i. Kaji adanya kemungkinan tanda pendarahan lain, misalnya: pendarahan pada gusi, bercak ekimosis, pada kulit atau darah yang keluar dari jahitan episiotomi.
j. Jelaskan kepada klien bahwa untuk kehamilan selanjutnya ia harus memberitahukan tenaga kesehatan yang dia hadapi untuk memastikan bahwa pencegahan trombofrebitis yang tepat telah dilakukan.
k. Beritahu klien bahwa perlu dilakukan rujukan untuk menentukan diagnosis pasti dan untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.(Adele Pillitteri, 2007)
3. Rawat Inap
penderita tirah baring untuk pemantauan gejala penyakitnya dan mencegah terjadinya emboli pulmonal.
4. Therapi Medik
pemberian antibiotika atau pemberian heparin jika terdapat tanda-tanda atau dugaan adanya emboli pulmonal
5. Therapi Operati
peningkatan vena cava inferior dan vena ovarika jika emboli septik terus berlangsung sampai mencapai paru-paru meskipun sedang dilakukan heparisasi








BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Tomboflebitis merupakan inflamasi permukaan pembuluh darah disertai pembentukan pembekuan darah. Trombosis bisa terdapat pada vena-vena kaki juga pada vena-vena panggul. Trombosis pada vena-vena yang dekat pada permukaan biasanya disertai peradangan, sehingga merupakan tromboflebitis. Tromboflebitis disebabkan karena Perluasan infeksi endometrium, Mempunyai varises pada vena, Obesitas, Pernah mengalami tramboflebitis, Berusia 30 tahun lebih dan pada saat persalinan berada pada posisi litotomi untuk waktu yang lama, Memiliki insidens tinggi untuk mengalami tromboflebitis dalam keluarga.(Adele Pillitteri, 2007).

B. SARAN
1. Bagi Ibu Nifas
Bagi ibu nifas, disaran agar rajin melakukan mobilisasi agar terhindar dari tromboflebitis.
2. Bagi Tenaga Kesehatan
Bagi tenaga kesehatan khususnya bidan, agar lebih memperhatikan pasien post partum sehingga terhindar dari komplikasi post partum seperti tromboflebitis.







DAFTAR PUSTAKA


Buku Utama
Prawiroharjo, Sarwono.2008.Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.Jakarta:Yayasan Bina Pustaka
__________________.2002.Ilmu Kebidanan.Jakarta:Yayasan Bina Pustaka
Pillitteri, Adele.2007.Perawan Kesehatan Ibu dan Anak.Jakarta;EGC
Mochtar,Rustam.1998.Sinopsis Obstetri.Jakarta:EGC
Internet
http://lenteraimpian.wordpress.com/2010/02/25/tromboflebitis/, 27-Januari-2012
http://bidangesot.wordpress.com/2010/12/13/tromboflebitis/, 27-Januari-2012
http://www.4shared.com/document/o3CHPX4l/tromboflebitis_superficial.html, 27-Januari-2012
http://www.4shared.com/office/kAPRN7p1/12_TROMBOFLEBITIS_2010.html, 27-Januari-2012
READ MORE - Tromboflebitis

HIV/AIDS

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kami mengankat masalah AIDS dalam Makalahini kami ingin mengetahui lebih jauh tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan masalah AIDS tersebut. Seperti yang kita ketahui bersama, AIDS adalah suatu penyakit yang belum ada obatnya dan belum ada vaksin yang bisa mencegah serangan virus HIV, sehingga penyakit ini merupakan salah satu penyakit yang sangat berbahaya bagi kehidupan manusia baik sekarang maupun waktu yang datang.
Selain itu AIDS juga dapat menimbulkan penderitaan, baik dari segi fisik maupun dari segi mental. Mungkin kita sering mendapat informasi melalui media cetak, elektronik, ataupun seminar-seminar, tentang betapa menderitanya seseorang yang mengidap penyakit AIDS. Dari segi fisik, penderitaan itu mungkin, tidak terlihat secara langsung karena gejalanya baru dapat kita lihat setelah beberapa bulan. Tapi dari segi mental, orang yang mengetahui dirinya mengidap penyakit AIDS akan merasakan penderitaan batin yang berkepanjangan. Semua itu menunjukkan bahwa masalah AIDS adalah suatu masalah besar dari kehidupan kita semua.
Penularan HIV ke ibu bisa akibat hubungan seksual yang tidak aman, pemakaian narkoba injeksi dengan jumlah bergantian bersama pengidap HIV, tertular melalui darah dan produk darah, penggunaan alat kesehatan yang tidak steril serta alat untuk menoreh kulit. Penularan HIV ke bayi dan anak bis dari ibu ke anak, penularan melalui darah, penularan melalui hubungan seks (pelecehan seksual pada anak).
Dengan pertimbangan-pertimbangan dan alasan itulah kami sebagai pelajar, sebagai bagian dari anggota masyarakat dan sebagai generasi penerus bangsa, merasa perlu memperhatikan hal tersebut. Oleh karena itu kami membahasnya dalam makalah ini.
B. Tujuan
1. Mahasiswa Dapat Mengetahui Defenisi HIV/AIDS
2. Mahasiswa Dapat Mengetahui Penyebab HIV/AIDS
3. Mahasiswa Dapat Mengetahui Patofisiologis HIV/AIDS
4. Mahasiswa Dapat Mengetahui Faktor Predisposisis HIV/AIDS
5. Mahasiswa Dapat Mengetahui Tanda Dan Gejala HIV/AIDS
6. Mahasiswa Dapat Mengetahui Gambaran Klinik HIV/AIDS
7. Mahasiswa Dapat Mengetahui Penilaian Klinik HIV/AIDS
8. Mahasiswa Dapat Mengetahui Efek Pada Kehamilan HIV/AIDS
9. Mahasiswa Dapat Mengetahui Efek Pada Persalinan HIV/AIDS
10. Mahasiswa Dapat Mengetahui Pencegahan HIV/AIDS
11. Mahasiswa Dapat Mengetahui Penanganan Umum HIV/AIDS
12. Mahasiswa Dapat Mengetahui Penanganan Pada Kehamilan HIV/AIDS
13. Mahasiswa Dapat Mengetahui Penanganan Pada Persalinan HIV/AIDS






















BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Pengertian
Human immunodefficiency virus (HIV) adalah virus yang menyerang ke kebalan tubuh manusia. Acquired immunodefficiency syndrome (AIDS) adalah kumpulan gejala penyakit yang timbul karena rendahnya daya tahan tubuh. Sebesar 89% penderita HIV berkembang menjadi AIDS
HIV merupakan singkatan dari ’human immunodeficiency virus’. HIV merupakan retrovirus yang menjangkiti sel-sel sistem kekebalan tubuh manusia (terutama CD4 positive T-sel dan macrophages– komponen-komponen utama sistem kekebalan sel), dan menghancurkan atau mengganggu fungsinya. Infeksi virus ini mengakibatkan terjadinya penurunan sistem kekebalan yang terus-menerus, yang akan mengakibatkan defisiensi kekebalan tubuh.
Sistem kekebalan dianggap defisien ketika sistem tersebut tidak dapat lagi menjalankan fungsinya memerangi infeksi dan penyakit- penyakit. Orang yang kekebalan tubuhnya defisien (Immunodeficient) menjadi lebih rentan terhadap berbagai ragam infeksi, yang sebagian besar jarang menjangkiti orang yang tidak mengalami defisiensi kekebalan. Penyakit-penyakit yang berkaitan dengan defisiensi kekebalan yang parah dikenal sebagai “infeksi oportunistik” karena infeksi-infeksi tersebut memanfaatkan sistem kekebalan tubuh yang melemah.
AIDS adalah singkatan dari ‘acquired immunodeficiency syndrome’ dan menggambarkan berbagai gejala dan infeksi yang terkait dengan menurunnya sistem kekebalan tubuh. Infeksi HIV telah ditahbiskan sebagai penyebab AIDS. Tingkat HIV dalam tubuh dan timbulnya berbagai infeksi tertentu merupakan indikator bahwa infeksi HIV telah berkembang menjadi AIDS.

B. Etiologi
Penyebab timbulnya penyakit AIDS belum dapat dijelaskan sepenuhnya. tidak semua orang yang terinfeksi virus HIV ini terjangkit penyakit AIDS menunjukkan bahwa ada faktor-faktor lain yang berperan di sini. Penggunaan alkohol dan obat bius, kurang gizi,tingkat stress yang tinggi dan adanya penyakit lain terutama penyakit yang ditularkan lewat alat kelamin merupakan faktor-faktor yang mungkin berperan di antaranya adalah bahwa HIV secara terus menerus memperlemah sistem kekebalan tubuh dengan cara menyerang dan menghancurkan kelompok-kelompok sel-sel darah putih tertentu yaitu sel T-helper. Normalnya sel T-helper ini (juga disebut sel T4) memainkan suatu peranan penting pada pencegahan infeksi. Ketika terjadi infeksi, sel-sel ini akan berkembang dengan cepat, memberi tanda pada bagian sistemkekebalan tubuh yang lain bahwa telah terjadi infeksi. Hasilnya, tubuh memproduksi antibody yang menyerang dan menghancurkan bakteri-bakteri dan virus-virus yang berbahaya.Selain mengerahkan sistem kekebalan tubuh untuk memerangi infeksi, sel T-helper
juga memberi tanda bagi sekelompok sel-sel darah putih lainnya yang disebut sel T-suppressor atau T8, ketika tiba saatnya bagi sistem kekebalan tubuh untuk menghentikan serangannya.
Biasanya kita memiliki lebih banyak sel-sel T-helper dalam darah daripada sel-sel T-suppressor, dan ketika sistem kekebalan sedang bekerja dengan baik, perbandingannya kira-kira dua banding satu. Jika orang menderita penyakit AIDS, perbandingan ini kebalikannya, yaitu sel-sel T-suppressor melebihi jumlah sel-sel T-helper. Akibatnya,penderita AIDS tidak hanya mempunyai lebih sedikit sel-sel penolong yaitu sel T-helper untuk mencegah infeksi, tetapi juga terdapat sel-sel penyerang yang menyerbu sel-sel penolong yang sedang bekerja.Selain mengetahui bahwa virus HIV membunuh sel-sel T-helper, kita jugaperlu tahu bahwa tidak seperti virus-virus yang lain, virus HIV ini mengubah struktur sel yang diserangnya. Virus ini menyerang dengan cara menggabungkan kode genetiknya dengan bahan genetik sel yang menularinya.
Hasilnya, sel yang ditulari berubah menjadi pabrik pengasil virus HIV yang dilepaskan ke dalam aliran darah dan dapat menulari sel-sel T-helper yang lain. Proses ini akan terjadi berulang-ulang. Virus yang bekerja seperti ini disebut retrovirus. HIV tidak hanya menyerang sistem kekebalan tubuh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa virus ini juga merusak otak dan sistem saraf pusat. Otopsi yang dilakukan pada otak pengidap AIDS yang telah meniggal mengungkapkan bahwa virus ini juga menyebabkan hilangnya banyak sekali jaringan otak. Pada waktu yang bersamaan,peneliti lain telah berusaha untuk mengisolasi HIV dengan cairan Cerebrospinal dari orang yang tidak menunjukkan gejala-gejala terjangkit AIDS.
Penemuan ini benar-benar membuat risau. Sementara para peneliti masih berpikir bahwa HIV hanya menyerang sistem kekebalan, semua orang yang terinfeksi virus ini tetapi tidak menunjukkan gejala terjangkit AIDS ataupenyakit yang berhubungan dengan HIV dapat dianggap bisa terbebas dari kerusakan jaringan otak. Saat ini hal yang cukup mengerikan adalah bahwa mereka yang telah terinfeksi virusHIV pada akhirnya mungkin menderita kerusakan otak dan sistem saraf pusat.Penyakit AIDS disebabkan oleh virus HIV yang menyerang sel-sel Limfosit(sel T helper) yang berfungsi melindungi tubuh terhadap terjadinya infeksi sehingga dayatahan tubuh penderita berkurang dan mudah terinfeksi oleh berbagai penyakit.

C. Patofisiologi
Patofisiologi AIDS adalah kompleks, seperti halnya dengan semua sindrom. Pada akhirnya, HIV menyebabkan AIDS dengan berkurangnya CD4 + limfosit T pembantu. Hal ini melemahkan sistem kekebalan tubuh dan memungkinkan infeksi oportunistik. Limfosit T sangat penting untuk respon kekebalan tubuh dan tanpa mereka, tubuh tidak dapat melawan infeksi atau membunuh sel kanker. Mekanisme penurunan CD4 T + berbeda di fase akut dan kronis.
Selama fase akut, HIV-diinduksi lisis sel dan membunuh sel yang terinfeksi oleh sel sitotoksik akun T untuk CD4 + T deplesi sel, walaupun apoptosis juga dapat menjadi faktor. Selama fase kronis, konsekuensi dari aktivasi kekebalan umum ditambah dengan hilangnya bertahap kemampuan sistem kekebalan tubuh untuk menghasilkan sel baru T muncul untuk menjelaskan penurunan lamban dalam jumlah CD4 + T sel.
Meskipun gejala defisiensi imun karakteristik AIDS tidak muncul selama bertahun-tahun setelah seseorang terinfeksi, sebagian besar CD4 + T hilangnya sel terjadi selama minggu pertama infeksi, terutama di mukosa usus, pelabuhan yang mayoritas limfosit ditemukan dalam tubuh. Alasan hilangnya preferensial CD4 + T sel mukosa adalah bahwa mayoritas CD4 + T sel mukosa mengungkapkan coreceptor CCR5, sedangkan sebagian kecil CD4 + sel T dalam aliran darah melakukannya.
HIV mencari dan menghancurkan CD4 + sel CCR5 mengekspresikan selama infeksi akut. Sebuah respon imun yang kuat akhirnya kontrol infeksi dan inisiat fase laten klinis. Namun, CD4 + T sel dalam jaringan mukosa tetap habis seluruh infeksi, meskipun cukup tetap awalnya menangkal infeksi yang mengancam jiwa.
Replikasi HIV terus-menerus menghasilkan keadaan aktivasi kekebalan umum bertahan selama fase kronis. Aktivasi kekebalan tubuh, yang tercermin oleh negara aktivasi peningkatan sel kekebalan dan pelepasan sitokin pro inflamasi, hasil dari aktivitas beberapa produk gen HIV dan respon kebal terhadap replikasi HIV terus-menerus. Penyebab lainnya adalah kerusakan pada sistem surveilans kekebalan penghalang mukosa yang disebabkan oleh penipisan mukosa CD4 + sel T selama fase akut dari penyakit.
Hal ini mengakibatkan pemaparan sistemik dari sistem kekebalan tubuh untuk komponen mikroba flora normal usus, yang pada orang sehat adalah disimpan di cek oleh sistem imun mukosa. Aktivasi dan proliferasi sel T yang hasil dari aktivasi kekebalan memberikan target segar untuk infeksi HIV. Namun, pembunuhan langsung dengan HIV saja tidak dapat menjelaskan menipisnya diamati CD4 + sel T karena hanya 0,01-0,10% dari CD4 + T sel dalam darah yang terinfeksi.
Penyebab utama hilangnya CD4 T + muncul hasil dari kerentanan mereka untuk apoptosis meningkat ketika sistem kekebalan tubuh tetap diaktifkan. Meskipun baru sel T terus diproduksi oleh timus untuk menggantikan yang hilang, kapasitas regeneratif timus secara perlahan dihancurkan oleh infeksi langsung thymocytes dengan HIV. Akhirnya, jumlah minimal CD4 + sel T yang diperlukan untuk menjaga respon imun yang cukup hilang, yang mengarah ke AIDS





D. Faktor Predisposisi
Risiko AIDS meningkat dengan cara:
1. Bertambahnya pasangan seksual
2. Penggunaan jarum suntik yang tidak steril (penularan virus masuk melalui pembuluh darah)
3. Berhubungan seksual melalui lubang dubur (anal)
4. Perilaku seksual apapun (melalui mulut, dubur atau vagina) tanpa kondom
5. Minum alkohol atau obat-obatan (konsumsi alkohol atau obat-obatan lainnya menyebabkan kita terdorong untuk melakukan seks tanpa menggunakan kondom)
6. Tattoo tubuh atau body piercing dengan jarum atau alat yang tidak steril atau terkontaminasi

E. Tanda dan Gejala
Gejala HIV/AIDS adalah sebagai berikut:
1. Mayor
a. BB turun 10% dalam satu bulan.
b. Diare kronik lebih dari 1 bulan.
c. Demam lebih dari satu bulan.
d. Kesadarn turun dan gangguan neurologi.
e. Ensefalopati HIV: gangguan kognitif, motorik, dan tingkah laku.
2. Minor
a. Batuk menetap lebih dari satu bulan
b. Dermatitis generalisata gatal.
c. Herpes zooster yang berulang.
d. Kandidiasis orofaring.
e. Herpes simplek kronik progresif.
f. Limpadenopati generalisata.
g. Infeksi jamur berulang pada alat kelamin wanita.
.
Semua itu adalah gejala-gejala yang dapat kita lihat pada penderita AIDS, yang lama-kelamaan akan berakhir dengan kematian Infeksi HIV menyebabkan penurunan dan melemahnya sistem kekebalan tubuh. Hal ini menyebabkan tubuh rentan terhadap infeksi penyakit dan dapat menyebabkan berkembangnya AIDS.
Gejala-gejala utama AIDS.Sebenarnya tidak ada tanda-tanda khusus yang bisa menandai apakah seseorang telah tertular HIV, karena keberadaan virus HIV sendiri membutuhkan waktu yang cukup panjang (5 sampai10 tahun hingga mencapai masa yang disebut fullblown AIDS). Adanya HIV di dalam darah bias terjadi tanpa seseorang menunjukan gejala penyakit tertentu dan ini disebut masa HIV positif. Bila seseorang terinfeksi HIV untuk pertama kali dan kemudian memeriksakan diri dengan menjalani tes darah, maka dalam tes pertama tersebut belum tentudapat dideteksi adanya virus HIV di dalam darah.
Hal ini disebabkan kaena tubuh kitamembutuhkan waktu sekitar 3 - 6 bulan untuk membentuk antibodi yang nantinya akan dideteksi oleh tes darah tersebut. Masa ini disebut window period (periode jendela) . Dalam masa ini , bila orang tersebut ternyata sudah mempunyai virus HIV di dalam tubuhnya (walaupun belum bisa di deteksi melalui tes darah), ia sudah bisa menularkan HIV melalui perilakuyang disebutkan di atas tadi. Berbagai gejala AIDS umumnya tidak akan terjadi pada orang-orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang baik. Kebanyakan kondisi tersebut akibat infeksi olehbakteri, virus, fungi danparasit, yang biasanya dikendalikan oleh unsur-unsur sistem kekebalan tubuh yang dirusak HIV.Infeksi oportunistik umum didapati pada penderita AIDS HIV mempengaruhi hampir semua organ tubuh.
Infeksi oportunistik tertentu yang diderita pasien AIDS, juga tergantung pada tingkat kekerapan terjadinya infeksi tersebut di wilayah geografis tempat hidup pasien.

F. Gambaran Klinik
Gejala penderita AIDS dapat ringan sampai berat. Pembagian tingkat klinis penyakit infeksi HIV. Dibagi sebagai berikut:
1. Tanpa gejala sama sekali.
Tingkat I


2. LGP (Limfadenopati Generalisata Persisten)
Pada tingkat ini penderita belum mengalami kelainan dan dapat melakukan aktivitas normal.
a. Tingkat klinis II (dini)
1) Penurunan berat badan kurang dari 10%.
2) Kelainan mulut dan kulit yang ringan, misalnya delmatitis seboroid, prurigo, onikomikosis, ulkus pada mulut yang berulang dan keilitis angularis.
3) Helpes zoster yang timbul pada 5 tahun terakhir.
4) Infeksi saluran bagian atas berulang, misalnya sinositi
Pada tingkat ini penderita sudah menunjukkan gejala, tetapi aktivitas tetap normal.
b. Tingkat klinis 3 (menengah)
1) Penurunan berat badan lebih dari 10 %.
2) Diare kronik lebih dari 1 bulan, tanpa diketahui sebabnya.
3) Demam yang tidak diketahui sebabnya selama lebih dari 1 bulan, hilang timbul maupun terus menerus.
4) Kandidosis mulut.
5) Bercak putih berambut di mulut (Hairy Leukoplakia).
6) Tuberkulosis paru setahun terakhir.
7) Infeksi bakterial berat, misalnya Pneumonia.
c. Tingkat klinis 4 (lanjut)
1) Badan menjadi kurus
2) Pnemonia Pneumocystis carinii.
3) Toksoplasmosis.
4) Kriptokokosis dengan diare lebih dari 1 bulan.
5) Kriptokokosis di luar paru.
6) Infeksi sitomegalo virus pada organ tubuh kecuali di limfa, hati atau kelenjar getah bening.
7) Infeksi virus herpes simpleks di mukokutans lebih dari 1 bulan atau di alat dalam (viseral) lamanya tidak dibatasi.
8) Mikosis apa saja (misalnya histoplasmosis, koksidiomikosis) yang endemik, yang menyerang banyak organ tubuh (diseminata).
9) Kandidosis esofagus, trakea, bronkus / paru.
10) Mikobakteriosis atipik diseminata.
11) Septikemia salmonella non tifoid.
12) Tuberkulosis di luar paru.
13) Limfoma.
14) Sarkoma kaposi.
15) Ensefalopati HIV, sesuai dengan kriteria CDC, yaitu gangguan kognitif atau motorik yang mengganggu aktivitas sehari-hari, progresif sesudah beberapa minggu atau bulan, tanpa dapat ditemukan penyebab lain kecuali HIV.

G. Penilaian Klinik
1. Sebelum memulai terapi, perlu dilakukan hal-hal sebagai berikut:
a. Penggalian riwayat penyakit secara lengkap
b. Pemeriksaan fisik lengkap
c. Pemeriksaan laboratorium rutin
d. Hitung limfosit total (Total Lymphocite Count/TLC) dan bila mungkin
pemeriksaan CD4.
2. Penilaian klinis yang mendukung adalah sebagai berikut:
a. Menilai stadium klinis infeksi HIV
b. Mengidentifikasi penyakit yang berhubungan erat dengan HIV di masa lalu
c. Mengidentifikasi penyakit yang terkait dengan HIV saat ini yang membutuhkan pengobatan
d. Mengidentifikasi pengobatan lain yang sedang dijalani yang dapat
mempengaruhi pemilihan terapi

H. Efek pada Kehamilan
Pada kelompok wanita usia subur, kehamilan sering terjadi. Oleh karena itu, program khusus dan perhatian di perlukan keduanya pada transmisi perinatal dan pengertian keterlibatan dari kehamilan terhadap kesehatan ibu itu sendiri. Transmisi vertikal HIV dari ibu ke anak dapat timbul intrauterin, lama persalian postpartum. Transmisi vertikal timbul mendekati 25-30% bayi yang lahir dari ibu yang tidak mendapat pengobatan antivirus selama kehamilan, sedangkan waktu terjadinya infeksi vertikal dari HIV belum dapat di tentukan dengan baik.

I. Efek pada Persalinan
Transmisi intrauterin telah di tunjuka secara langsung dengan deteksi virus pada jaringan abortus fetal. Kebanyakan episode dari infeksi kongenital HIV timbul selama periode intra partum, mungkin berhubungan dengan terpaparnya bayi terhadap darah ibu yang terinfeksi dan sekret servik atau vagina, sebagaimana mikrotransfusi darah ibu – anak muncul selama kontraksi uterus. Transmisi intrapartum virus mendukung pernyataan bahwa 50-70% anak terinfeksi memiliki tes virologi negatif pada saat lahir, dan menjadi positif pada saat usia 3 bulan. Ditunjukkan bahwa anak yang lahir pertama dari kembar dua berada pada resiko lebih tinggi mengalami infeksi di banding dengan lahir yang ke dua, mungkin karena lebih lamanya paparan terhadap sekresi mukosa servikovaginal. Peningkatan resiko transmisi telah digambarkan selama persalinan yang memanjang, pecah ketuban yang lama, perdarahan plasenta, dan adanya cairan amnion yang mengandung darah.

J. Pencegahan
Bagi yang belum terinfeksi Sampai detik ini belum ada vaksin yang sanggup mencegah atau mengobati HIV AIDS. Namun bukanlah sesuatu yang mustahil untuk melakukan pencegahan HIV terhadap diri sendiri dan oranglain. Oleh karena itu, pemahaman terhadap proses penularan merupakan kunci dari pencegahannya.
1. Tindakan-tindakan untuk mencegah penularan HIV AIDS jika belum terinfeksi HIV AIDS:
a. Pahami HIV AIDS dan ajarkan pada orang lain
Memahami HIV AIDS dan bagaimanavirus ini ditularkan merupakan dasar untuk melakukan tindakan pencegahan
b. Ketahui status HIV AIDS pasangan seks
Berhubungan seks dengan sembarang orang menjadikan pelaku seks bebas ini sangat beresiko terinfeksi HIV, oleh karena itu mengetahui status HIV AIDS pasangan seks sangatlah penting.
c. Gunakan jarum suntik yang baru dan steril
Penyebaran paling cepat HIV AIDS adalah melalui penggunaan jarum suntik secara bergantian dengan orang yang memiliki status HIV positif, penularan melalui jarum suntik sering terjadi pada IDU
( injection drug user).
d. Gunakan Kondom Berkualitas
Selain membuat ejakulasi lebih lambat, penggunaankondom saat berhubungan seks, cukup efektif mencegah penularan HIV AIDS melalui seks.
e. Lakukan sirkumsisi / khitan
Banyak penelitian pada tahun 2006 oleh National Institutesof Health (NIH) menunjukkan bahwa pria yang melakukan khitan memiliki resiko 53 %lebih kecil daripada mereka yang tidak melakukan sirkumsisi
f. Lakukan tes HIV secara berkala
Jika anda tergolong orang dengan resiko tinggi,sebaiknya melakukan tes HIV secara teratur, minimal 1 tahun sekali
K. Penanganan Umum
Kendatipun dari berbagai negara terus melakukan researchnya dalam mengatasi HIV AIDS, namun hingga saat ini penyakit AIDS tidak ada obatnya termasuk serum maupun vaksin yang dapat menyembuhkan manusia dari Virus HIV penyebab penyakit AIDS. Adapun tujuan pemberian obat-obatan pada penderita AIDS adalah untuk membantu memperbaiki daya tahan tubuh, meningkatkan kualitas hidup bagi meraka yang diketahui terserang virus HIV dalam upaya mengurangi angka kelahiran dan kematian.

L. Penangan pada Kehamilan
1. Wanita hamil mendapatkan pelayanan seperti prosedur ANC
2. Wanita hamil mendapatkan informed consent tentang HIV-AIDS, dan meminta kesediaan untuk dilakukan test.
3. Apabila hasil positif ibu hamil diharskan berkunjung ke klinik VCT

4. Perlunya pemberian antiretroviral profilaksis pada ibu hamil sesuai dengan tahap pemberian antiretroviral.
a. ODHA dengan indikasi ART & kemungkinan hamil
Zidovudine (4 dosis Tambahan) + 3TC + Nevirapine
(hindari EFV)
b. ODHA sedang menggunakan ART & kemudian hamil
1) Regimen untuk ibu Regimen untuk bayi
a) Lanjutkan regimen (ganti dengan Nevirapine atau PI jika sedang menggunakan EFV pd trimester I)
b) Lanjutkan dgn ARV yg sama selama & sesudah persalinan - Zidovudine 1 minggu + Nevirapine dosis tunggal dlm 72 jam pertama; atau
c) Zidovudine 1 minggu; atau
d) Nevirapine dosis tunggal dlm 72 jam pertama
c. ODHA hamil dengan indikasi ART
Rejimen untuk ibu Rejimen untuk bayi
1) Zidovudine (4 dosis Tambahan) + 3TC + Nevirapine
2) Hindari EFV pada trimester pertama
3) Jika mungkin hindari ARV sesudah trimester pertama - Zidovudine 1 minggu + Nevirapine dosis tunggal dalam 72 jam pertama; atau
4) Zidovudine 1 minggu; atau
5) Nevirapine dosis tunggal dlm 72 jam pertama
d. Odha hamil dan belum ada indikasi ART
Rejimen untuk ibu Rejimen untuk bayi
1) Zidovudine mulai 28 minggu + NVP dosis tunggal pada awal persalinan
2) Zidovudine 1 minggu + Nevirapine dosis tunggal dalam 72 jam pertama
Alternatif Alternatif
a) Hanya Zidovudine mulai 28 minggu atau 1 minggu
b) Zidovudine + 3TC mulai 36 minggu, selama persalinan, 1 minggu sesudah persalinan berikan Zidovudine
c) Nevirapine dosis tunggal pada awal persalinan
d) Nevirapine dosis tunggal dalam 72 jam pertama

e. Odha hamil dengan indikasi ART tetapi belum menggunakan antiretroviral
Rejimen untuk ibu Rejimen untuk bayi
1) Zidovudine mulai 28 minggu + N dosis tunggal pada awal persalinan
2) Zidovudine 1 minggu + Nevirapine dosis tunggal dalam 72 jam pertama
Alternatif Alternatif
a) Hanya Zidovudine mulai 28 minggu atau zidovudine 1 minggu
b) Zidovudine + 3TC mulai 36 minggu, selama persalinan, 1 minggu sesudah persalinan
c) Nevirapine dosis tunggal pada awal persalinan c. NVP dosis tunggal dalam 72 jam pertama
f. Odha hamil dengan TB aktif
Obat yang sesuai tetap diberikan
Rejimen untuk ibu
1) Bila akan menggunakan ART: Zidovudine (4 dosis Tambahan) + 3TC + SQV/r
2) Bila pengobatan mulai trimester III: Zidovudine (4 dosis Tambahan) + 3TC + EFV
3) Bila belum akan menggunakan ARV: Tahap 4
M. Penanganan pada Persalinan
Penularan HIV dari seorang ibu yang terinfeksi dapat terjadi selama masa kehamilan, selama proses persalinan atau setelah kelahiran melalui ASI. Tanpa adanya intervensi apapun, sekitar 15% sampai 30% ibu dengan infeksi HIV akan menularkan infeksi selama masa kehamilan dan proses persalinan. Pemberian air susu ibu meningkatkan risiko penularan sekitar 10-15%. Risiko ini tergantung pada faktor- faktor klinis dan bisa saja bervariasi tergantung dari pola dan lamanya masa menyusui.
Penularan dari Ibu ke Anak dapat dikurangi dengan cara berikut:
1. Pengobatan: Jelas bahwa pengobatan preventatif antiretroviral jangka pendek merupakan metode yang efektif dan layak untuk mencegah penularan HIV dari ibu ke anak. Ketika dikombinasikan dengan dukungan dan konseling makanan bayi, dan penggunaan metode pemberian makanan yang lebih aman, pengobatan ini dapat mengurangi risiko infeksi anak hingga setengahnya. Regimen ARV khususnya didasarkan pada nevirapine atau zidovudine. Nevirapine diberikan dalam satu dosis kepada ibu saat proses persalinan, dan dalam satu dosis kepada anak dalam waktu 72 jam setelah kelahiran. Zidovudine diketahui dapat menurunkan risiko penularan ketika diberikan kepada ibu dalam enam bulan terakhir masa kehamilan, dan melalui infus selama proses persalinan, dan kepada sang bayi selama enam minggu setelah kelahiran. Bahkan bila zidovudine diberikan di saat akhir kehamilan, atau sekitar saat masa persalinan, risiko penularan dapat dikurangi menjadi separuhnya. Secara umum, efektivitas regimen obat-obatan akan sirna bila bayi terus terpapar pada HIV melalui pemberian air susu ibu. Obat-obatan antiretroviral hendaknya hanya dipakai di bawah pengawasan medis.
2. Operasi Caesar: Operasi caesar merupakan prosedur pembedahan di mana bayi dilahirkan melalui sayatan pada dinding perut dan uterus ibunya. Dari jumlah bayi yang terinfeksi melalui penularan ibu ke anak, diyakini bahwa sekitar dua pertiga terinfeksi selama masa kehamilan dan sekitar saat persalinan. Proses persalinan melalui vagina dianggap lebih meningkatkan risiko penularan dari ibu ke anak, sementara operasi caesar telah menunjukkan kemungkinan terjadinya penurunan risiko. Kendatipun demikian, perlu dipertimbangkan juga faktor risiko yang dihadapi sang ibu.
3. Menghindari pemberian ASI: Risiko penularan dari ibu ke anak meningkat tatkala anak disusui. Walaupun ASI dianggap sebagai nutrisi yang terbaik bagi anak, bagi ibu penyandang HIV-positif, sangat dianjurkan untuk mengganti ASI dengan susu formula guna mengurangi risiko penularan terhadap anak. Namun demikian, ini hanya dianjurkan bila susu formula tersebut dapat memenuhi kebutuhan gizi anak, bila formula bayi itu dapat dibuat dalam kondisi yang higienis, dan bila biaya formula bayi itu terjangkau oleh keluarga.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
HIV/AIDS adalah penyakit yang sampai sekarang ini belum ada obatnya dan mematikan, selain karena mengganggu kesehatan fisik, HIV/AIDS juga mengganggu stabilitas psikis dan kehidupan sosial penderita, sehingga perlu dilakukan penanganan yang komprehensif.
Peran pemerintah sangat besar terhadap penanganan HIV/AIDS sebab pemerintah adalah pemegang kendali terhadap stabilitas dalam kelompok masyarakat, selain itu pemerintah memiliki kekuatan melalui Kebijakan yang dibuat sebagai upaya pencapaian tatanan sosial yang sehat dan dinamis.
Melalui kebijakan yang telah di buat, pemerintah kota Makassar telah melakukan berbagai upaya promosi dan pencegahan, pengobatan serta rehabilitasi terhadap penderita HIV/AIDS. Semoga melalui upaya yang telah direncanakan dan yang telah dilaksanakan dapat berjalan dengan baik dan bisa menekan penularan HIV/AIDS serta menurunkan angka penderita HIV/AIDS di Indonesia, khususnya di Makassar.
B. Saran
1. Melalui hak yang dimiliki oleh pemerintah untuk membuat kebijakan, agar sekiranya dapat menyentuh kepada seluruh lapisan masyarakat sehingga dalam penerapan kebijakan yang di buat oleh pemerintah mudah dilaksanakan dan dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat.
2. Pemerintah bersama jajarannya selalu sigap dalam menangani masalah HIV/AIDS sehingga penularannya dapat di cegah sehingga tidak banyak jatuh korban yang berujung kepada kematian.
3. Pemerintah bisa menjadi tauladan bagi masyarakat sehingga perilaku yang berisiko HIV/AIDS dapat dicegah. Selain itu agar kiranya pemerintah selalu memperhatikan alokasi dana dalam upaya pencegahan dan penanggulangan terhadap penderita HIV/AIDS

DAFTAR PUSTAKA

Feriyanto,Fadlun Achmad.2011.Asuhan Kebidanan Patologis.Jakarta:Salemba Medika
Manuba,Ida Bagus Gde.2001.Kapita Selekta Penatalaksanaan Rutin Obsteri Ginekologi dan KB.Jakarta:EGC
Prawirohardjo,Sarwono.2010.Ilmu Kebidanan.Jakarta:Bina Pustaka
http://ichsanx.blogspot.com/2011/05/makalah-hiv-aids.html, 17- Maret - 2012
http://ekaakbidbup.blogspot.com/2009/10/penyakit-imunologi-aids-dan-hiv.html, 17- Maret - 2012
http://www.scribd.com/doc/51505153/makalah-HIV-aids, 17- Maret - 2012
http://www.masbied.com/2010/02/20/makalah-aids/, 17- Maret - 2012
READ MORE - HIV/AIDS

Pelayanan Kesehatan Pada Bayi

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Deteksi dini tumbuh kembang bayi adalah kegiatan pemeriksaan untuk menemukan secara dini adanya penyimpangan tumbuh kembang bayi. Denganditemukan secara dini penyimpangan atau masalah tumbuh kembang bayi, makaintervensi akan lebih mudah dilakukan , tenaga kesehatan juga mempunyai waktudalam membuat intervensi yang tepat, terutama ketika harus melibatkan ibu ataukeluarga. Bila penyimpangan terlambat diketahui, maka intervensinya akan sulit danhal ini akan berpengaruh pada tumbuh kembang bayi. ( Niken Mulani. 2009 hal. 57 )Oleh karena itu penulis menyusun makalah ini yang berjudul “PelayananKesehatan pada Bayi”

B. TUJUAN
Adapun tuuan dari pembuatan makalah ini yaitu:
1. Untuk mengetahui memenuhi tugas Asuhan Kebidanan Komunitas
2. Untuk mengetahui pelayanan apa saja yang diberikan pada bayi
3. Untuk mengetahui Pemeriksaa Rutin Pada Bayi











BAB II
PEMBAHASAN


A. PELAYANAN KESEHATAN PADA BAYI
Upaya kesehatan Ibu dan Anak adalah upaya di bidang kesehatan yang menyangkut pelayanan dan pemeliharaan ibu hamil, ibu bersalin, ibu menyusui, bayi dan anak balita serta anak prasekolah.
Bayi merupakan makhluk hidup mungil calon manusia yang terbentuk dari pertemuan sperma dan sel telur di dalam rahim seorang wanita. Bayi merupakan anak yang berumur 28 hari sampai kurang lebih 1 tahun. Perawatan kesehatan pada bayi meliputi:
1. Penyuluhan kesehatan kepada keluarga khususnya ibu, tentang:
a. Pemberian Asi Eksklusif untuk bayi di bawah 6 bulan dan makanan Pendamping Asi (MP-Asi) untuk bayi di atas 6 bulan.
b. Cara menyusui bayi yang baik.
1) Pengertian Teknik Menyusui Yang Benar
Teknik Menyusui Yang Benar adalah cara memberikan ASI kepada bayi dengan perlekatan dan posisi ibu dan bayi dengan benar (Perinasia, 1994).
Persiapan memperlancar pengeluaran ASI dilaksanakan dengan jalan :
1. Membersihkan puting susu dengan air atau minyak, sehingga epitel yang lepas tidak menumpuk.
2. Puting susu ditarik-tarik setiap mandi, sehingga menonjol untuk memudahkan isapan bayi.
3. Bila puting susu belum menonjol dapat memakai pompa susu atau dengan jalan operasi.


Posisi dan perlekatan menyusui
Terdapat berbagai macam posisi menyusui. Cara menyususi yang tergolong biasa dilakukan adalah dengan duduk, berdiri atau berbaring.
Ada posisi khusus yang berkaitan dengan situasi tertentu seperti ibu pasca operasi sesar. Bayi diletakkan disamping kepala ibu dengan posisi kaki diatas.
Menyusui bayi kembar dilakukan dengan cara sepert memegang bola bila disusui bersamaan, dipayudara kiri dan kanan. Pada ASI yang memancar (penuh), bayi ditengkurapkan diatas dada ibu, tangan ibu sedikit menahan kepala bayi, dengan posisi ini bayi tidak tersedak.

Langkah-langkah menyusui yang benar
1. Cuci tangan yang bersih dengan sabun, perah sedikit ASI dan
oleskan disekitar putting, duduk dan berbaring dengan santai.
2. Bayi diletakkan menghadap ke ibu dengan posisi sanggah seluruh tubuh bayi, jangan hanya leher dan bahunya saja, kepala dan tubuh bayi lurus, hadapkan bayi ke dada ibu, sehingga hidung bayi berhadapan dengan puting susu, dekatkan badan bayi ke badan ibu, menyetuh bibir bayi ke puting susunya dan menunggu sampai mulut bayi terbuka lebar.
3. Segera dekatkan bayi ke payudara sedemikian rupa sehingga bibir bawah bayi terletak di bawah puting susu.
4. Cara melekatkan mulut bayi dengan benar yaitu dagu menempel pada payudara ibu, mulut bayi terbuka lebar dan bibir bawah bayi membuka lebar.
Cara pengamatan teknik menyusui yang benar
Menyusui dengan teknik yang tidak benar dapat mengakibatkan puting susu menjadi lecet, ASI tidak keluar optimal sehingga mempengaruhi produksi ASI selanjutnya atau bayi enggan menyusu. Apabila bayi telah menyusui dengan benar maka akan memperlihatkan tanda-tanda sebagai berikut :
1. Bayi tampak tenang.
2. Badan bayi menempel pada perut ibu.
3. Mulut bayi terbuka lebar.
4. Dagu bayi menmpel pada payudara ibu.
5. Sebagian areola masuk kedalam mulut bayi, areola bawah lebih banyak yang masuk.
6. Bayi nampak menghisap kuat dengan irama perlahan.
7. Puting susu tidak terasa nyeri.
8. Telinga dan lengan bayi terletak pada satu garis lurus.
9. Kepala bayi agak menengadah.
Lama dan frekuensi menyusui
Sebaiknya dalam menyusui bayi tidak dijadwal, sehingga tindakan menyusui bayi dilakukan di setiap saat bayi membutuhkan, karena bayi akan menentukan sendiri kebutuhannya. Ibu harus menyusui bayinya bila bayi menangis bukan karena sebab lain (kencing, kepanasan/kedinginan atau sekedar ingin didekap) atau ibu sudah merasa perlu menyusui bayinya. Bayi yang sehat dapat mengosongkan satu payudara sekitar 5-7 menit dan ASI dalam lambung bayi akan kosong dalam waktu 2 jam. Pada awalnya, bayi tidak memiliki pola yang teratur dalam menyusui dan akan mempunyai pola tertentu setelah 1 – 2 minggu kemudian. Menyusui yang dijadwal akan berakibat kurang baik, karena isapan bayi sangat berpengaruh pada rangsangan produksi ASI selanjutnya. Dengan menyusui tanpa jadwal, sesuai kebutuhan bayi akan mencegah timbulnya masalah menyusui. Ibu yang bekerja dianjurkan agar lebih sering menyusui pada malam hari. Bila sering disusukan pada malam hari akan memicu produksi ASI
Cara Meningkatkan ASI
1. Adalah dengan memberikan lebih sering, siang dan malam, setiap waktu sampai bayi tidak mau.
2. Bagi ibu memakan makanan dengan gizi seimbang dan dengan pola makan yang benar dan teratur

c. Pola pemberian makan dan masalah pemberian makan.
Tahapan pengenalan MPASI:
1) Mulai usia 6 bulan
a) Tekstur makanan : semi cair.
b) Mulailah dengan makanan lunak seperti biskuit yang diencerkan pakai air atau susu. Kenalkan pula bubur susu dalam jumlah sedikit demi sedikit. Bubur susu sebaiknya dibuat sendiri dari tepung beras yang dicampur dengan ASI atau susu formula. Untuk pengenalan rasa, selingi dengan tepung beras merah, kacang hijau, atau labu kuning.
c) Mulai pemberian sayuran yang dijus, kemudian buah yang dhaluskan atau di jus. Sayur dan buah yang disarankan yaitu: zicchini, pisang, pir, alpukat, jeruk.
d) Pemberian ASI atau susu formula di selang seling waktu makan utama.Untuk kebutuhan susu/cairan dihitung dari kebutuhan cairan per usia dan berat badan bayi. Kebutuhan cairan pada usia bayi trimester pertama sekitar 150cc/hari/berat badan.Trimester kedua sebesar 125cc/kg BB/hr dan trimester ketiga 110 cc/kg BB/hr.Contoh usia 12 bulan bb 10 kg, kebutuhan cairan sebesar 110 cc x 10 kg = 1.100 cc
2) Mulai usia 7 bulan
a) Perkenalkan dengan tekstur yang lebih kasar (semi padat) yaitu bubur tim saring. Coba terus seandainya bayi menolak atau muntah karena tahapan ini harus dilaluinya. Jika tidak nanti bayi akan malas mengunyah.
b) Perhatikan asupan zat besi seperti hati sapi karena di usia ini cadangan zat besi bayi mulai berkurang.
c) Setelah secara bertahap pemberian tim saring, bayi bisa dikenalkan dengan nasi tim tanpa disaring.
d) Jenis sayur dan buah yang disarankan: asparagus, wortel, bayam, sawi, bit, lobak, kol, mangga, blewah, timun suri, peach.
e) Bisa juga ditambahkan ayam, sapi, hati ayam/sapi, tahu, tempe.
3) Mulai usia 9 bulan
a) Mulai dikenalkan dengan bubur beras atau nasi lembek, lauk pauk dengan sayuran seperti sup.
b) Pada usia lebih dari 1 tahun, anak sudah bisa mengkonsumsi makanan keluarga.

d. Kebersihan bayi
Cara merawat kulit baru bayi :
1. Sabun dapat membuat iritasi kulit bayi yang lembut jadi bilas dengan sempurna
2. Letakkan bayi anda pada handuk kering di lantai dengan melepas baju mereka. Udara segar baik untuk kulit.
3. Jangan gunakan pebersih yang beraroma, sabun yang keras, deterjen, atau pembersih bayi yang mengandung alcohol – produk ini dapat menyebabkan iritasi dan ruam, terutama pada kulit yang sensitive.
4. Gunakan juga bedak bayi dengan tepat - hal itu dapat menyebabkan masalah pernafasan
5. Jaga tunggul tali pusar bayi bersih dan kering sampai tali pusar ini kering dan jatuh secara alami.
Jangan lupa gigi dan gusi bayi. Bersihkan perlahan dua kali sehari dan daftarkan bayi anda pada dokter gigi.

Pengetahuan Tentang Popok
Ganti popok bayi sesegera mungkin jika basah atau kotor, untuk mencegah kemerahan dan luka. Saat mngganti popok adalah keadaan ideal bagi kuman untuk menyebar ke bayi anda, diri anda sendiri dan rumah anda, jadi berikan perhatian ekstra ketika melakukannya.
1. Untuk kebersihan yang baik, selalu pastikan bahwa alas untuk bayi ganti popok tidak kotor, dan rusak. Lindungi tatakan dengan kertas tisu, yang akan dibuang setelah itu.
2. Jika ketika mengganti popok, bayi berada di permukaan yang lebih tinggi, pegang selalu dengan satu tangan pada bayi untuk mencegah agar tidak jatuh.
3. Jangan pernah ganti popok pada area untuk menyiapkan makanan atau di tempat makan.
4. Setelah mengangkat popok yang kotor, bersihkan keseluruhan daerah popok bayi dari depan sampai belakang untuk menghindari infeksi. Bilas semua sabun dan keringkan.
5. Jika anda menggunakan popok yang disposable ..
a. Gulung popok disposable dan bungkus kembali dengan untuk menjaga agar kotoran tidak keluar. Letakkan popok dalam kantong plastik dan kemudian buang kedalam tempat sampah yang dilapisi kantong plastik juga.

e. Tanda bayi sehat:
1) Berat badan naik sesuai garis pertumbuhan mengikuti pita hijau pada KMS atau naik ke pita warna di atasnya
Peningkatan Berat Badan Bayi ditinjau dari KMS
Setiap bulan bayi ditimbang untuk dipantau apakah berat badannya mengalami peningkatan? Grafik berat badan berdasarkan usia pada KMS (Kartu Menuju Sehat) sebagai acuan untuk mengetahui status gizi bayi. Apabila berat badan berada pada daerah antara garis 0 sampai 2 berarti termasuk status gizi baik, daerah diatas garis 2 berarti termasuk obesitas. Walaupun berada di daerah antara garis 0 dan 2 namun grafik berat badan bayi anda tidak naik (sama) atau bahkan menurun dibandingkan bulan sebelumnya, hal ini berarti status gizinya berkurang.
Jika berat badan bayi anda terdapat dalam daerah antara garis 0 sampai -2 berarti termasuk kurus, dan jika dibawah garis -2 maka perlu diwaspadai karena berarti termasuk gizi buruk. Tips menjaga agar berat badan meningkat sesuai pertumbuhannya :
1. Beri ASI setiap kali bayi menginginkan.
2. Beri MPASI sesuai umur bayi. Mulai usia 8 - 9 bulan dapat diberikan bubur tim 3 kali dengan tambahan beberapa jenis makanan yang mengandung tinggi karbohidrat (seperti beras merah, beras putih, kentang, labu, ubi), tinggi protein (sepeeti telur, ayam, ikan, tempe, tahu, daging sapi), tinggi lemak (santan, minyak), tinggi vitamin dan mineral (zukini, wortel, bayam, brokoli, tomat, kacang merah, kacang polong)
3. Beri makanan selingan 2 kali sehari diantara waktu makan seperti bubur kacang hijau, dan biskuit.





4. Beri buah-buahan atau sari buah setiap hari.
Peningkatan berat badan untuk bayi ASI laki-laki dan perempuan standar WHO adalah :


Usia (Bulan) Berat (Kg)*
Laki-laki Perempuan
0 3,3 3,2
1 4,5 4,2
2 5,6 5,1
3 6,4 5,8
4 7 6,4
5 7,5 6,8
6 8 7,3
7 8,3 7,6
8 8,6 8
9 8,9 8,2
10 9,2 8,5
11 9,4 8,7
12 (1 Tahun) 9,6 9
13 9,9 9,2
14 10,1 9,4
15 10,3 9,6
16 10,5 9,8
17 10,7 10
18 11 10,2
19 11,2 10,5
20 11,4 10,6
21 11,6 10,8
22 11,8 11,1
23 12 11,3
24 (2 Tahun) 12,2 11,5


2) Anak bertambah tinggi
3) Kemampuannya bertambah sesuai umur
4) jarang sakit
5) Ceria, aktif, dan lincah


f. Tanda bahaya umum/bayi sakit
1) Tidak bisa minum atau menyusu
2) Memuntahkan semuanya
3) kejang
4) letargis
Tanda-tanda bahaya pada bayi antara lain adalah:
1. Bayi tidak mau menyusu atau memuntahkan semua makanan dan minuman, tandanya bayi terkena infeksi berat.
2. Bayi kejang, kejang pada bayi baru lahir kadang sulit dibedakan dengan gerakan normal. Tetapi jika melihat gerakan bayi tidak seperti biasa seperti menguap, mengunyah , mengisap, berkedip-kedip, mendelik, mata berputar, kaki seperti mengayuh sepeda yang tidak berhenti jika bayi disentuh atau dielus-elus, maka kemungkinan itu adalah kejang.
3. Bayi lemah bergerak hanya jika dipegang itu tandanya bayi sakit berat.
4. Jika bayi sesak nafas dimana frekwensi nafas lebih sama dengan 60 kali/menit.
5. Bayi merintih itu tandanya bayi sakit berat
6. Pusar berwarna kemerahan sampai kedinding perut, jika kemerahan sudah sampai kedinding perut tandanya sudah infeksi berat.
7. Jika suhu tubuh bayi lebih dari 37,5 C atau tubuh terasa dingin dimana suhu tubuh kurang dari 36,5 C.
8. Mata bayi bernanah banyak itu dapat menyebabkan kebutaan.
9. Bayi diare, mata cekung, tidak sadar, jika kulit bayi atau perut bayi dicubit akan kembali dengan lambat. Ini tandanya kekurangan cairan yang berat bisa menyebabkan kematian.
10. Kulit bayi terlihat kuning pada hari pertama, atau kurang dari 24 jam setelah lahir umur lebih dari 14 hari, kuning sampai telapak tangan atau kaki.
11. Buang air besar atau tinja bayi berwarna pucat.
g. Pemeriksaan rutin/berkala terhadap bayi Meliputi:
1) Pemantauan tumbuh kembang untuk meningkatkan kualitas tumbuh kembang anak melalui deteksi dini dan stimulasi tumbuh kembang.
2) Pencegahan kecelakaan
3) Kesehatan pola tidur
h. Pemberian Imunisasi.
i. Pemberian Vit. A, kapsul vitamin A berwarna biru yang diberikan 1 kali dalam setahun

B. PEMERIKSAA RUTIN PADA BAYI
Beberapa pemeriksaan medis yang secara rutin harus dilakukan pada bayi Pengukuran
Pemeriksaan medis pada bayi biasanya dimulai dengan pengukuran panjang bayi, berat badan, dan lingkar kepala. Semua pengukuran tersebut dapat untuk memantau tumbuh kembang bayi. Sehingga hasil pengukuran trsebut dapat dicatat dalam grafik perkembangan bayi.
1. Pemeriksaan medis dari kepala hingga kaki
Pemeriksaan fisik secara menyeluruh dapat membantu dokter mendeteksi jika ada masalah kesehatan yang dialami bayi. Berikut adalah dasar-dasar pemeriksaan tersebut, antara lain
a. Kepala
Bidan akan memeriksa ukuran dan kekerasan fontanel. Jarak antara tulang tengkorak memberikan banyak ruang otak bayi untuk tumbuh. Fontanel aman untuk disentuh dan biasanya
hilang dalam waktu 12-18 bulan, ketika tulang tengkorak menyatu.
Untuk membantu kepala bayi mendapatkan bentuk yang baik, dokter mungkin menyarankan berbagai posisi kepala untuk bayi pada saat tidur.

b. Telinga
Bidan akan memeriksa cairan atau infeksi pada telinga bayi dengan alat yang disebut suatu otoscope. Dokter mungkin memeriksa bentuk telinga bayi juga.
c. Mata
Bidan akan mencari kondisi tidak normal pada mata bayi, seperti strabismus. Pada akhir bulan pertama, kebanyakan bayi bisa fokus pada objek sekitar 8-12 inchi.
d. Mulut
Bidan mungkin memeriksa refleks mengisap bayi dengan menempatkan ujung jari atau dot di mulut bayi. Juga dilakukan pemeriksaan pada rongga mulut bayi untuk melihat apakah ada tanda-tanda sariawan atau infeksi jamur.
e. Kulit
Bidan akan memeriksa berbagai kondisi kulit, termasuk tanda lahir, ruam, dan sakit kuning, yaitu perubahan warna kekuningan pada kulit dan mata.
Ikterus ringan yang berkembang segera setelah lahir sering hilang sendiri dalam waktu 1 atau 2 minggu, tetapi kasus yang lebih parah mungkin memerlukan terapi cahaya atau perawatan lainnya. Dokter juga akan memastikan daerah sekitar pusar bayi.


f. Jantung dan paru-paru
Bidan akan memeriksa jantung bayi dan paru-paru dengan stetoskop untuk mendeteksi irama, suara jantung yang abnormal, atau kesulitan bernapas.
g. Pinggul dan kaki
Bidan akan menggerakkan kaki bayi untuk memeriksa ligamen dan sendi pinggul, serta otot bayi
h. Genitalia
Bidan akan memeriksa alat kelamin bayi untuk melihat apakah ada nyeri, benjolan, atau tanda-tanda infeksi lain.




















BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Penyuluhan kesehatan bayi kepada keluarga khususnya ibu, tentang:
1. Pemberian Asi Eksklusif untuk bayi di bawah 6 bulan danmakanan Pendamping Asi (MP-Asi) untuk bayi di atas 6 bulan.
2. Cara menyusui bayi yang baik.
3. Pola pemberian makan dan masalah pemberian makan.
4. Kebersihan bayi
5. Tanda bayi sehat:
a. Berat badan naik sesuai garis pertumbuhan mengikuti pita hijau pada KMS atau naik ke pita warna di atasnya
b. Anak bertambah tinggi
c. Kemampuannya bertambah sesuai umur
d. jarang sakit
e. Ceria, aktif, dan lincah
6. Tanda bahaya umum/bayi sakit
a. Tidak bisa minum atau menyusu
b. Memuntahkan semuanya
c. kejang
d. letargis
7. Pemeriksaan rutin/berkala terhadap bayi Meliputi:
a. Pemantauan tumbuh kembang untuk meningkatkan kualitastumbuh kembang anak melalui deteksi dini dan stimulasi tumbuh kembang.
b. Pencegahan kecelakaan
c. Kesehatan pola tidur
d. Pemberian Imunisasi.
e. Pemberian Vit. A, kapsul vitamin A berwarna biru yang diberikan 1 kali dalam setahun

B. SARAN
Untuk tenaga kesehatan harus memperhatikan tentang kesehatan bayi dengan memeberikan pelayanan kesehatan yang bermutu dan berkualitas, sehingga bisa menurunkan angka kesakitan dan kematian pada bayi.
Untuk para ibu harus memperhatikan kesehatan bayinya yaitu sebisa mungkin untuk memberikan ASI ekslusif sampai usia 6 bulan. Dan ibu memberi kan MP-ASI lebih dari 6 bulan. Ibu juga harus rutin untuk menimbangkan bayinya dan memberikan imunisasi secara rutin. Ibu harus segera membawa anaknya ketenaga kesehatan jika bayinya sakit, untuk mendapatkan penanganan.















DAFTAR PUSTAKA


Khoerunnisa,andang.2010.Asuhan Kebidanan Neonatus, Bayi dan Balita.Yogyakarta:Nuha Medika
Simpkin, Penny, dkk.2008.Kehamilan, Melahirkan dan Bayi.Jakarta:Arcan
READ MORE - Pelayanan Kesehatan Pada Bayi