LAPORAN KEGIATAN PRAKTIKUM HEMOGLOBIN, LAJU ENDAP DARAH, WAKTU PEMBUKAN DARAH DAN WAKTU PERDARAHAN

on Kamis, 18 Agustus 2011

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
I. HEMOGLOBIN (Hb)
Haemoglobin adalah suatu protein yang membawa oksigen dan yang memberi warna merah pada sel darah merah (Barger, 1982:171). Dengan kata lain haemoglobin merupakan komponen yang terpenting dalam eritrosit.
Haemoglobin juga merupakan protein yang kaya zat besi yang memiliki afinitas (daya gabung) terhadap oksigen dan dengan oksigen itu membentuk oxsihaemoglobin di dalam sel darah merah. Jumlah haemoglobin dalam darah normal ialah 15 gram setiap 100 ml darah, dan jamlah itu biasanya disebut “100persen”. Menurut Costill (1998:48), haemoglobin adalah zat yang terdapat dalam butir darah merah. Haemoglobin sebenarnya adalah merupakan protein globuler yang di bentuk dari 4 sub unit, dan setiap sub unit mengandung hame.
Hame ini di buat dalam mitokokondria dan menambah acetid acid manjadi alpha ketoglutaricacid + glicine membentuk “pyrrole compound” menjadi protopophyrine II yang dengan Fe berubah menjadi hame. Selanjutnya 4 hame bersenyawa dengan globulin membentuk haemoglobin. Menurut Poppy Kumaila dalam Kamus Saku Kedokteran Dorland (1996 :499) Haemoglobin adalah pigmen pembawa oksigen eritrosit, dibentuk oleh eritrosit yang berkembang dalam sumsum tulang, merupakan empat rantai polipeptida globin yang berbeda, masing-masing terdiri dari beberapa ratus asam amino.
Haemoglobin memerankan peranan penting dalam pengangkutan oksigen selama ia dapat kembali mengikat oksigen. Haemoglobin cenderung mengikat oksigen apabila lingkungannya penuh dengan oksigen dan melepaskan oksigen dalam lingkungan yang relatif rendah oksigennya. Ini berarti haemoglobin mengambil oksigen dalam paru dan melepaskan ke jaringan-jaringan seperti otot aktif. Pada orang-orang yang mengandung haemoglobin normal, kapasits darahnya membawa oksigen kira-kira 20 mL oksigen per 100 mL darah. Hampir alam semua keadaan, darah mengandung banyak sekali oksigen ketika bergerak melalui paru.
II. LAJU ENDAP DARAH
Laju Endap Darah (LED) atau dalam bahasa inggrisnya Erythrocyte Sedimentation Rate (ESR) merupakan salah satu pemeriksaan rutin untuk darah. Proses pemeriksaan sedimentasi (pengendapan) darah ini diukur dengan memasukkan darah kita ke dalam tabung khusus selama satu jam. Makin banyak sel darah merah yang mengendap maka makin tinggi Laju Endap Darah (LED)-nya.
Tinggi ringannya nilai pada Laju Endap Darah (LED) memang sangat dipengaruhi oleh keadaan tubuh kita, terutama saat terjadi radang. Namun ternyata orang yang anemia, dalam kehamilan dan para lansia pun memiliki nilai Laju Endap Darah (LED) yang tinggi. Jadi orang normal pun bisa memiliki Laju Endap Darah (LED) tinggi, dan sebaliknya bila Laju Endap Darah (LED) normalpun belum tentu tidak ada masalah. Jadi pemeriksaan Laju Endap Darah (LED) masih termasuk pemeriksaan penunjang, yang mendukung pemeriksaan fisik dan anamnesis dari sang dokter.
Bila memang Fe-nya yang turun tentunya harus cukup mengkonsumsi tablet besi (Sulfusferrosus). Sekarang bentuknya tablet berbagai ragam. Ada yang disatukan dengan Effervescent, atau dengan Vitamin B, dan sebagainya. Sedangkan bila kadar proteinnya yang turun, tentunya harus konsumsi makanan atau minuman tinggi protein. Ini pun bentuknya sudah beragam, ada yang berbentuk susu, berbentuk minuman bertenaga dan yang paling banyak mungkin berbentuk makanan lauk-pauk sehari-hari.
III. WAKTU PENDARAHAN
A. Prosedur Pekerjaan
1. Menentukan Nilai Hematokrit
a) Memasukan darah ke dalam mikro kapiler hematokrit yang susah mengandung anti koagulan(mikro kapiler warna merah), menutup salah satu ujung kapiler dengan kristoseal
b) Kemudian kapiler yang sudah berisi darah tersebut di centrifuge dengan kecepatan 3000rpm selama 15 menit
c) Membaca volume sel-sel darah yang sudah terpisah dalam kapiler dengan alat pembaca mikrokapiler (mikro capillery reader atau skala hematokrit) yang disediakan
d) Menghitung nilai hematokrit
Nilai Hematokrit = volume sel-sel darah X 100 %
volume darah
2. Penentuan Waktu Pendarahan
Menusuk ujung jari vaccinostyle steril kemudian mencatat dengan tepat waktu saat arah pertama keluar, mengisap tetesan darah dengan kertas isap sampai darah tidak keluar lagi dan mencatat waktunya.
C. Penentuan Waktu Pembekuan Darah
1. Menusuk ujung jari, tetes darah yang keluar diisap ke dalam pipa mikro kapiler yang tidak berheparin (mikro kapiler warna biru). Mencatat dengan tepat saat tetes darah masuk kapiler.
2. Menggenggam mikro kapiler dengan tangan selama 15 menit. Setelah itu mematahkan sdikit demi sedikit kapiler tersebut setiap satu menit sampai terbentuk benang fibrin pada patahannya
3. Mencatat waktu pada saat terjadi benang fibrin. waktu antara penghisapan darah kedalam kapiler dan saat mulai terbentuk benang fibrin adalah waktu pembekuan.
a. Penentuan Waktu Pendarahan
Dalam menentukan waktu pendarahan menggunakan stopwatch, didapatkan data bahwa waktu pendarahannya adalah selama 8,82 detik
b. Penentuan Waktu Pembekuan Darah
Waktu pembekuan darah selama percobaan adalah 13, 3 menit.
c. Pembahasan
Hematokrit adalah persentase volume seluruh SDM yang ada dalam darah yang diambil dalam volume tertentu. Untuk tujuan ini, darah diambil dengan semprit dalam suatu volume yang telah ditetapkan dan dipindahkan kedalam suatu tabung khusus berskala hematokrit. Untuk pengukuran hematokrit ini darah tidak boleh dibiarkan menggumpal sehingga harus diberi anti koagulan. Setelah tabung tersebut dipusingkan / sentripus dengan kecepatan dan waktu tertentu, maka SDM akan mengendap. Dari skala Hematokrit yang tertulis di dinding tabung dapat dibaca berapa besar bagian volume darah seluruhnya. Nilai hematokrit yang disepakati normal pada laki – laki dewasa sehat ialah 45% sedangkan untuk wanita dewasa adalah 41%.
Darah dengan antikogulan isotonic dalam tabung dipusing selama 30 menit dengan kecepatan 3000 rpm sehingga eritrosit dipadatkan kecepatan 3000 rpm sehingga eritrosit dipadatkan membuat kolom dibagian bawah dan tabung tingginya kolom mencerminkan nilai hematokrit. Intinya Darah dicentrifuge supaya eritrosit mengendap.
Prinsip pemeriksaan hematokrit cara manual yaitu darah yang mengandung antikoagulan disentrifuse dan total sel darah merah dapat dinyatakan sebagai persen atau pecahan desimal (Simmons A, 1989). Penetapan nilai hematokrit cara manual dapat dilakukan dengan metode makrohematokrit atau metode mikrohetokrit. Pada cara makrohematokrit digunakan tabung Wintrobe yang mempunyai diameter dalam 2,5 – 3 mm,panjang 110 mm dengan skala interval 1 mm sepanjang 100 mm dan volumenya ialah 1 ml. pada cara mikrohematokrit digunakan tabung kapiler yang panjangnya 75 mm dan diameter dalam 1 mm, tabung ini ada dua jenis, ada yang dilapisi antikoagulan Na2EDTA atau heparin dibagian dalamnya dan ada yang tanpa koagulan. Tabung kapiler dengan anti koagulan dipakai bila menggunakan darah tanpa anti koagulan seperti darah kapiler, sedangkan tabung kapiler dengan antikoagulan dipakai bila menggunakan darah dengan anti koagulan seperti darah vena (Wirawan,dkk 2000). Metode mikrohematokrit mempunyai keunggulan lebih cepat dan sederhana. Metode mikrohematokrit proporsi plasma dan eritrosit (nilai hematokrit) dengan alat pembaca skala hematokrit.
Nilai normal dalam hematokrit adalah:
a. Pria : 47 +/- 7 %
b. Wanita : 42 +/- 5 %
c. Bayi baru lahir : 54 +/- 10 %
d. bayi 3 bulan : 38 +/- 6 %
e. bayi 3-6 tahun : 40 +/- 4 %
f. 10 – 12 tahun : 41 +/- 4 %
Pada percobaan, praktikan menggunakan sampel darah wanita dan mendapat data hematokrit sebesar 44, artinya wanita tersebut memiliki nilai hematokrit normal untuk darahnya.
Pendarahan adalah peristiwa keluarnya darah dari pembuluh darah karena pembuluh tersebut mengalami kerusakan. Kerusakan ini bisa disebabkan oleh benturan fisik, sayatan, atau pecahnya pembuluh darah yang tersumbat. Pada percobaan dalam praktikum, praktikan menghitung waktu pendarahan menggunakan stopwatch.
Waktu pembekuan adalah waktu yang diperlukan dari saat darah keluar sampai berbentuk benang fibrin pada proses pembekuan darah. Pada penderita hemofilia darah sukar sekali membeku. Hemofilia, yaitu penyakit yang mengakibatkan darah sukar membeku. Jika si penderita mengalami luka ringan, dapat mengakibatkan pendarahan yang serius. Dalam praktikum yang lalu, Waktu pembekuan darah yaitu 13,3 menit.
Vitamin K berperan penting dalam proses pembekuan darah serta mencegah perdarahan. Kekurangn vitamin K bisa meningkatkan risiko perdarahan tidak terkontrol. Vitamin K mengontrol proses pembekuan darah karena berkaitan langsung dengan prothrombin, plasma protein yang diubah menjadi thrombin selama proses pembekuan darah. Thrombin ini selanjutnya akan mengubah fibrinogen menjadi fibrin, protein yang tidak larut air yang akan memampatkan pengentalan darah. Jika tidak ada vitamin K maka prothrombin tidak akan terbentuk. Kekurangan prothombin akan mengurangi jumlah thrombin yang sangat bereperan dalam proses pembekuan darah. Kekurang thrombin akan meningkatkan kecenderungan tubuh mengalami perdarahan jika mengalami luka.

BAB II
ISI
A. HAEMOGLOBIN
1. Tanggal praktikum : 6 Agustus 2011
2. Tujuan : Untuk mengetahui kadar hemoglobin pada seseorang.
3. Dasar Teori
Hemoglobin merupakan protein sel darah merah ( SDM ) yang fungsinya antara lain :
a. Mengangkut oksigen dari paru-paru ke jaringan dan CO2 dan jaringan ke paru-paru
b. Memberi warna merah pada darah
c. Mempertahan kan keseimbangan asam basa dalam tubuh
Hemoglobin mengandung protein globin yang berkaitan dengan hem ( senyawa besi protein ), mempunyai berat molekul 64450 dalton. Di dalam darah mengandung Hb antara 7,8 – 12,2 mM/l atau 12,6 – 18,4 gr/dl, tergantung pada jenis kelamin dan umur individu.
Pada setiap tetramer Hb mampu mengikat 4 atom oksigen yang terikat pada atom ferro ( Fe 2+ ) dalam hem. Hemoglobin yang berikatan dengan oksigen disebut oksihemoglobin ( HbO2 ) sedang yang telah melepaskan oksigen disebut deoksihemoglobin ( HbCO ) jika Hb mengikat gas CO hasil pembakaran yang tidak sempurna. Ikatan Hb dengan CO, 200 kali lebih kuat disbanding ikatan Hb dengan oksigen. Dalam keadaan tertentu, Hb juga dapat berikatan sehingga besi teroksidasi ( Fe3+ ) membentuk methemoglobin ( Met Hb atau Hb ( Fe3+ ). Hb dalam bentuk MetHb akan menyebabkan kemampuan mengikat oksigennya menjadi hilang. Beberapa derivate hemoglobin satu sama lain dapat dibedakan dengan cara pengenceran. HbO2 pada pengenceran terlihat berwarna merah kekuningan, HbCO berwarna merah terang ( carmine tint ) sedang deoksihemoglobin ( Hb ) berwarna kecoklatan.
4. Prinsip
Hemoglobin dengan larutan K2Fe ( CN )6 berubah menjadi methemoglobin kemudian menjadi hemoglobin sianida ( HiCN ) oleh KCN dengan absorbansi maksimum pada 540 nm. Pengaturan pH dilakukan dengan menambah KH2FO4, untuk mempercepat lisis eritrosit dan mengurangi kekeruhan HiCN ditambah non ionic detergent. Absorbansi warna berbanding lurus dengan konsentrasi Hb.
5. Bahan dan Alat
a. Bahan : darah kapilerm darah vena-EDTA, akuabides dan reagen sianmethemoglobin
b. Alat : Erlenmeyer, tabung reaksi, spektrofotometer.
6. Cara Kerja
a. Disiapkan 3 tabung reaksi seukuran 5 ml masing-masing diberi label reagen blanko ( RB ) Reagen standarr ( RTD ) dan Reagen Sampel ( RPL )
b. Tabubg RB diberi 5000 µl ( 5 cc ) Reagen Hb Cyanida
c. Tabung RTD diberi 20 µl sample darah standard an ditambah dengan 5000µl Reagen Hb Cyanida dicampur hingga homogeny
d. Tabung RPL diberi 20 µl sample darah dan ditambah dengan 5000 µl Reagen Hn Cyanida didiamkan selama 3 menit pada suhu kamar
e. Diukur absorbansi RTD dan abs ( RPL ) terhadap reagen blanko pada panjang gelombang 578 nm
Perhitungan
Hb = Abs RPL X 15 G/DL
Abs RTD
Nilai normal :
a. Wanita : 12-16 g/dl
b. Pria : 14-18 g/dl
c. Bayi : 10-15 g/dl
d. Balita : 11-14 g/dl
e. Anak-anak : 12-16 g/dl
f. Bayi baru lahir : 16-25 g/dl
g. Bayi belum lahir : masih mengandung Hb fetal dari plasenta
7. Hasil dan pembahasan :
a. Tanggal : 6 agustus 2011
b. Waktu : 11.00 WIB
c. Tempat : AKBID Paguwarmas Maos Cilacap
d. Nama probandus : Siska Paradesa
e. Umur : 19 tahun
f. Hasil : 11,5 gr%
g. Pembahasan : Telah dilakukan pemeriksaan Hb pada Nn. Siska dengan hasil normal
Kesimpulan :
Hemoglobin merupakan protein sel darah merah ( SDM ) Hemoglobin mengandung protein globin yang berkaitan dengan hem ( senyawa besi protein ), mempunyai berat molekul 64450 dalton. Di dalam darah mengandung Hb antara 7,8 – 12,2 mM/l atau 12,6 – 18,4 gr/dl, tergantung pada jenis kelamin dan umur individu.
Nilai normal :
a. Wanita : 12-16 g/dl
b. Pria : 14-18 g/dl
c. Bayi : 10-15 g/dl
d. Balita : 11-14 g/dl
e. Anak-anak : 12-16 g/dl
f. Bayi baru lahir : 16-25 g/dl

B. LAJU ENDAP DARAH
1. Tanggal praktikum : 6 Agustus 2011
2. Tujuan : Untuk mengetahui sedimentasi eritrisit dalam darah.
3. Dasar Teori
Laju endap darah (erithrocyte sedimentation rate, ESR) yang juga disebut kecepatan endap darah (KED) atau laju sedimentasi eritrosit adalah kecepatan sedimentasi eritrosit dalam darah yang belum membeku, dengan satuan mm/jam. LED merupakan uji yang tidak spesifik. LED dijumpai meningkat selama proses inflamasi akut, infeksi akut dan kronis, kerusakan jaringan (nekrosis), penyakit kolagen, rheumatoid, malignansi, dan kondisi stress fisiologis (misalnya kehamilan). Sebagian ahli hematologi, LED tidak andal karena tidak spesifik, dan dipengaruhi oleh faktor fisiologis yang menyebabkan temuan tidak akurat.

Pemeriksaan CRP dipertimbangkan lebih berguna daripada LED karena kenaikan kadar CRP terjadi lebih cepat selama proses inflamasi akut, dan lebih cepat juga kembali ke kadar normal daripada LED. Namun, beberapa dokter masih mengharuskan uji LED bila ingin membuat perhitungan kasar mengenai proses penyakit, dan bermanfaat untuk mengikuti perjalanan penyakit. Jika nilai LED meningkat, maka uji laboratorium lain harus dilakukan untuk mengidentifikasi masalah klinis yang muncul.
4. Prinsip kerja
Metode yang digunakan untuk pemeriksaan LED ada dua, yaitu metode Wintrobe dan Westergreen. Hasil pemeriksaan LED dengan menggunakan kedua metode tersebut sebenarnya tidak seberapa selisihnya jika nilai LED masih dalam batas normal. Tetapi jika nilai LED meningkat, maka hasil pemeriksaan dengan metode Wintrobe kurang menyakinkan. Dengan metode Westergreen bisa didapat nilai yang lebih tinggi, hal itu disebabkan panjang pipet Westergreen yang dua kali panjang pipet Wintrobe. Kenyataan inilah yang menyebabkan para klinisi lebih menyukai metode Westergreen daribada metode Wintrobe. Selain itu, International Commitee for Standardization in Hematology (ICSH) merekomendasikan untuk menggunakan metode Westergreen.
LED berlangsung 3 tahap, tahap ke-1 penyusunan letak eritrosit (rouleaux formation) dimana kecepatan sedimentasi sangat sedikit, tahap ke-2 kecepatan sedimentasi agak cepat, dan tahap ke-3 kecepatan sedimentasi sangat rendah.
5. Alat dan Bahan
a. Alat:
1. Tabung dan rak
2. Tusuk tabung Westergen
b. Bahan:
1. Darah vena (1,6 ml) d
2. dicampur dengan Na Sitrat 3,8% sebanyak 0,4ml
6. Cara Kerja
a. Metode Westergreen
Untuk melakukan pemeriksaan LED cara Westergreen diperlukan sampel darah citrat 4 : 1 (4 bagian darah vena + 1 bagian natrium sitrat 3,2 % atau darah EDTA yang diencerkan dengan NaCl 0.85 % 4 : 1 (4 bagian darah EDTA + 1 bagian NaCl 0.85%). Homogenisasi sampel sebelum diperiksa.
Sampel darah yang telah diencerkan tersebut kemudian dimasukkan ke dalam tabung Westergreen sampai tanda/skala 0.
Tabung diletakkan pada rak dengan posisi tegak lurus, jauhkan dari getaran maupun sinar matahari langsung.
Biarkan tepat 1 jam dan catatlah berapa mm penurunan eritrosit.

Nilai Rujukan
Metode Westergreen :
Pria : 0 - 15 mm/jam
Wanita : 0 - 20 mm/jam
7. Hasil dan Pembahasan
Telah dilakukan pemeriksaan Laju Endap Darah pada:
a. Nama : Susanti
b. Umur : 21tahun
Dari pemeriksaan Laju Endap Darah, didapatkan hasil 39mm/jam (normal).
Kesimpulan :
Laju endap darah (erithrocyte sedimentation rate, ESR) yang juga disebut kecepatan endap darah (KED) atau laju sedimentasi eritrosit adalah kecepatan sedimentasi eritrosit dalam darah yang belum membeku, dengan satuan mm/jam. LED merupakan uji yang tidak spesifik. LED dijumpai meningkat selama proses inflamasi akut, infeksi akut dan kronis, kerusakan jaringan (nekrosis), penyakit kolagen, rheumatoid, malignansi, dan kondisi stress fisiologis (misalnya kehamilan). Sebagian ahli hematologi, LED tidak andal karena tidak spesifik, dan dipengaruhi oleh faktor fisiologis yang menyebabkan temuan tidak akurat.
Hasil normal :
a. Pria : 0 - 15 mm/jam
b. Wanita : 0 - 20 mm/jam



C. WAKTU PEMBEKUAN DARAH
1. Tannggal Praktikum : 6 agustus 2011
2. Tujuan : untuk menentukan lamanya waktu pembekuan darah.
3. Dasar Teori
Test waktu pembekuan digunakan untuk menentukan lamanya waktu yang diperlukan darah untuk membeku. Adanya gangguan pada factor koagulasi terutama yang membentuk tromboplastin, maka waktu pembekuan akan memanjang.
4. Prinsip Kerja :
Waktu pembekuan darah selama percobaan adalah 13, 3 menit.
5. Bahan dan Alat
- Bahan : darah
- Alat : spuit 0,5 cc, stopwatch
6. Cara kerja
a. lakukan pengisian vena dengan spui 0,5 cc
b. Darah diletakan pada kaca obyek dan hidupkan stopwatch
c. Tiap 30 detik darah diangkat dengan lidi sampai terjadi pembekuan yang ditandai dengan adanya benang fibrin
d. Catat waktu terjadinya pembekuan, hasilnya dinyatakan dalam menit nilai normal 2 – 6 menit
7. Hasil pembahasan
a. Tanggal : 6 agustus 2011
b. Waktu : 11.15 WIB
c. Nama probandus : Siti wahidatun
d. Umur : 18 tahun
e. Hasil : 01:36:52 menit
f. Pembahsan : Telah dilakukan pemeriksaan pembekuan darah pada Nn. Siti dengan hasil normal
g. Kesimpulan : Test waktu pembekuan digunakan untuk menentukan lamanya waktu yang diperlukan darah untuk membeku. Adanya gangguan pada factor koagulasi terutama yang membentuk tromboplastin, maka waktu pembekuan akan memanjang

D. WAKTU PERDARAHAN
1. Tanggal : 6 Agustus 2011
2. Tujuan
a. mendeteksi cacat kualitatif trombosit
b. sebagai tes pra operasi untuk menentukan respon pendarahan
3. Dasar Teori
Terjadinya perdarahan berkepanjangan setelah trauma superfisial yang terkontrol, merupakan petunjuk bahwa ada defisiensi trombosit. Masa perdarahan memanjang pada kedaan trombositopenia ( <100.000/mm3 ada yang mengatakan < 75.000 mm3), penyakit Von Willbrand, sebagian besar kelainan fungsi trombosit dan setelah minum obat aspirin.
Pembuluh kapiler yang tertusuk akan mengeluarkan darah sampai luka itu tersumbat oleh trombosit yang menggumpal. Bila darah keluar dan menutupi luka , terjadilah pembekuan dan fibrin yang terbentuk akan mencegah perdarahan yang lebih lanjut . Pada tes ini darah yang keluar harus dihapus secara perlahan lahan sedemikian rupa sehingga tidak merusak trombosit. Setelah trombosit menumpuk pada luka , perdarahan berkurang dan tetesan darah makin lama makin kecil.
Tes masa perdarahan ada 2 cara yaitu metode Duke dan metode Ivy . Kepekaan metode Ivy lebih baik, dengan nilai rujukan I 7 menit dan metode Duke dengan nilai rujukan 1 – 3 menit.
4. Prinsip Kerja
METODE DUKE
Pra Analitik
a. Persiapan Pasien: tidak memerlukan persiapan khusus
b. Persiapan sample: darah kapiler
5. Prinsip:
Dibuat luka standar pada daun telinga , lamanya perdarahan sampai berhenti dicatat.



a. Hasil yang normal
Sebuah waktu perdarahan normal untuk metode Ivy adalah kurang dari lima menit dari waktu menusuk sampai semua pendarahan dari luka berhenti. Beberapa teks memperluas jangkauan normal untuk delapan menit. Nilai normal untuk rentang metode template sampai delapan menit, sedangkan untuk metode template yang dimodifikasi, hingga 10 menit dianggap normal. Normal untuk metode Duke tiga menit.
b. Abnormal hasil
Sebuah waktu perdarahan yang lebih lama dari normal hasil abnormal. Tes harus dihentikan jika pasien tidak berhenti perdarahan dengan 20-30 menit. Waktu perdarahan yang lebih lama ketika fungsi normal trombosit terganggu, atau ada angka yang lebih rendah dari normal trombosit dalam darah.
Sebuah waktu perdarahan lebih lama dari normal dapat menunjukkan bahwa salah satu dari beberapa cacat hemostasis hadir, termasuk berat trombositopenia , disfungsi trombosit, cacat pembuluh darah, penyakit Von Willebrand, atau kelainan lain.
c. Kerugian
Dengan metode Duke adalah bahwa tekanan pada pembuluh darah di daerah tusukan tidak konstan dan hasil yang dicapai kurang dapat diandalkan.
d. Keuntungan
Dengan metode Duke adalah bahwa tidak ada bekas luka tersisa setelah tes.


6. Alat dan bahan
a. Disposable Lanset steril
b. Kertas saring bulat
c. Stop Watch
d. Kapas alkohol

7. Cara kerja :
a. Desinfeksi daun telinga dengan kapas alkohol , biarkan mengering.
b. Buat luka dengan disposable lanset steril panjang 2 mm dalam 3 mm. sebagai pegangan pakailah kaca objek dibalik daun telinga dan tepat pada saat darah keluar jalankan stop watch.
c. Setiap 30 detik darah yang keluar diisap dengan kertas saring bulat tetapi jangan sampai menyentuh luka
d. Bila perdarahan berhenti , hentikan stop watch dan catatlah waktu perdarahan

Catatan :
1. Bila perdarahan 10 menit, hentikan perdarahan dengan menekan luka dengan kapas alkohol . Dianjurkan untuk diulang dengan cara yang sama atau dengan metode Ivy.
2. Digunakan untuk bayi dan anak – anak
3. Kepekaannya kurang.

7. Hasil
a. Tanggal : 6 agustus 2011
b. Waktu : 11.25 WIB
c. Tempat : AKBID Paguwarmas Maos Cilacap
d. Nama probandus : Susanti
e. Umur : 21 tahun
f. Hasil : 01:08:37 menit
g. Pembahasan : Telah dilakukan pemeriksaan waktu pendarahan pada Nn Siti denagn hasil normal.
Kesimpulan :
Sebuah waktu perdarahan normal untuk metode Ivy adalah kurang dari lima menit dari waktu menusuk sampai semua pendarahan dari luka berhenti. Beberapa teks memperluas jangkauan normal untuk delapan menit. Nilai normal untuk rentang metode template sampai delapan menit, sedangkan untuk metode template yang dimodifikasi, hingga 10 menit dianggap normal. Normal untuk metode Duke tiga menit.



DAFTAR PUSTAKA


Ganong, W. F. Fisiologi Kedokteran. Edisi 14. Jakarta: EGC
Murroy, Robert dkk. 2003. Biokimia Harper. Jakarta: ECG
Saryono. 2009. Biokimia Reproduksi. Jogjakarta: Mitra Cendikia
Setiawan, Bambang dkk. 2005. Mandala Of Health A scientific Journal. “ Kadar Methaemoglobin Dan Stress Oksidatif Pada pasien Hiperglikemia”. Purwokerto: PPD UNSOED


0 komentar:

Poskan Komentar